Gunung Es Masalah Industri Asuransi, Kinerja OJK Kembali jadi Sorotan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membersihkan logo asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021. Nilai itu meningkat 10,8 persen dibandingkan April tahun lalu yang hanya Rp 498,23 triliun. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja membersihkan logo asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021. Nilai itu meningkat 10,8 persen dibandingkan April tahun lalu yang hanya Rp 498,23 triliun. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah lebih dari dua tahun Yudono Yanuar menanti pembayaran klaim asuransi PT Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912.

    Dana sekitar Rp 20 juta itu rencananya digunakan untuk pembayaran kuliah anak keduanya pada 2019 lalu. "Sampai sekarang anakku kuliah semester 3, tidak cair juga," ujar Yudono kepada Tempo, Rabu, 13 Oktober 2021.

    Yudono sudah lama mengenal AJB Bumiputera. Bahkan, semasa sekolah dulu, orang tuanya pun membeli polis dari perusahaan asuransi tertua di Tanah Air itu. Karena itu, ia tak ragu-ragu untuk membeli polis asuransi pendidikan untuk dua anaknya, masing-masing mulai 1997 dan 2002.

    Ia pun tak pernah absen membayar premi sekitar Rp 500 ribu setiap tiga bulan. Yudono mengatakan klaim untuk pendidikan anak pertamanya selalu cair dari mulai SMP hingga kuliah. "Untuk anak kedua pun lancar keluar semua saat SMP dan SMA, tapi pas terakhir (kuliah) tidak."

    Saat mengurus pencairan klaim Juni 2019 lalu, pensiunan karyawan swasta tersebut mengatakan sempat datang ke Kantor AJB Bumiputera di Jalan Pemuda Jakarta Timur. Kala itu, petugas asuransi sudah menyatakan bahwa Yudono harus masuk antrean untuk bisa mencairkan dana tersebut.

    "Aku ditunjukkan antreannya cukup tebal. Berarti saya terakhir, saya tanya nunggunya berapa lama, katanya setahun. Tapi sudah 2 tahun lebih enggak keluar," kata dia.

    Kini, ia hanya bisa berharap dananya masih bisa kembali. Ia pun meminta agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempunyai sikap yang jelas agar perseroan tidak menggantung nasib para nasabah. "Ini secara nasional kan gede. Anggotanya pun bukan yang kelebihan uang, nyeseknya di situ."

    Kisah Yudono hanya sepenggal kisah pilu yang terjalin antara nasabah dan perusahaan asuransi di Tanah Air. Baru-baru ini, aktris senior Wanda Hamidah juga sempat curhat melalui media sosial tentang penyesalannya menjadi salah satu pengguna asuransi Prudential.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.