Kejar Setoran Dividen BUMN

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tamu beraktivitas di dekat logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis 2 Juli 2020. Kementerian BUMN meluncurkan logo baru pada Rabu (1/7) yang menjadi simbolisasi dari visi dan misi kementerian maupun seluruh BUMN dalam menatap era kekinian yang penuh tantangan sekaligus kesempatan. ANATAR FOTO/Aprillio Akbar

    Sejumlah tamu beraktivitas di dekat logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis 2 Juli 2020. Kementerian BUMN meluncurkan logo baru pada Rabu (1/7) yang menjadi simbolisasi dari visi dan misi kementerian maupun seluruh BUMN dalam menatap era kekinian yang penuh tantangan sekaligus kesempatan. ANATAR FOTO/Aprillio Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah upaya dilakukan Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan BUMN untuk mengejar target dividen Rp 40 triliun tahun depan yang ditetapkan Menteri BUMN Erick Thohir.

    PT Pertamina (Persero) Tbk contohnya. BUMN di bidang energi ini bakal mendorong kinerja dan pencapaian target untuk meningkatkan kontribusi dividen kepada negara.

    "Pada dasarnya dividen ini berasal dari laba perusahaan. Karenanya Pertamina konsisten mendorong kinerja ekselen dan pencapaian target melalui peningkatan revenue dan efisiensi biaya," kata Senior Vice President Corporate Communication and Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman saat dihubungi, Kamis, 23 September 2021.

    Menurut dia, perseroan akan mendorong kinerja yang baik dan pencapaian target melalui peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya.

    "Selain dari dividen, Pertamina memberikan kontribusi kepada negara melalui PNBP maupun pembayaran MMKBN serta dukungan kegiatan sosial yang membantu menggerakkan perekonomian nasional," ujarnya.

    Pada 2017, Pertamina menyumbang dividen Rp 11,6 triliun ke negara. Setahun kemudian, Rp 8,6 triliun dan turun menjadi Rp 8 triliun pada 2019. Namun, dividen yang diberikan Pertamina naik menjadi Rp 8,5 triliun pada 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.