Obral Insentif Pariwisata, Ampuh Meredam Dampak Virus Corona?

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri: Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Parekraf Wishnutama dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sebelum dimulainya rapat terbatas Peningkatan Peringkat Pariwisata Indonesia di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 17 Februari 2020. Dalam rapat ini dibahas rencana pemberian insentif bagi wisatawan asing maupun lokal yang berwisata di Indonesia. TEMPO/Subekti.

    Dari kiri: Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Parekraf Wishnutama dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sebelum dimulainya rapat terbatas Peningkatan Peringkat Pariwisata Indonesia di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 17 Februari 2020. Dalam rapat ini dibahas rencana pemberian insentif bagi wisatawan asing maupun lokal yang berwisata di Indonesia. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, JakartaSebuah tabel terpampang besar pada layar lebar di belakang tempat duduk Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Secara terperinci, bekas Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun mengupas pelbagai pukulan Virus Corona yang menghantam ekonomi di dalam dan luar negeri. 

    Cerita Sri Mulyani mengenai hantaman Virus Corona itu bermuara kepada hasil sidang kabinet pada Selasa, 25 Februari 2020. Dalam rapat yang dipimpin Presiden Joko Widodo itu, tutur dia, pemerintah memutuskan memberikan stimulus berupa insentif kepada perekonomian, khususnya yang terimbas langsung penyebaran virus dari Cina ini.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama (kiri) dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan konferensi pers seusai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa 11 Februari 2020. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    "Kami mempersiapkan stimulus dengan melakukan counter cyclical terhadap kondisi saat ini, khususnya yang pertama adalah untuk sektor pariwisata," ujar Sri Mulyani kepada ratusan pelaku ekonomi dalam sebuah acara di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020.

    Menurut Sri Mulyani, dampak negatif COVID-19 sudah mulai terasa langsung pada sejumlah sektor ekonomi Tanah Air. Bahkan, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia meleset dari target 5,3 persen, menjadi kisaran 4,7 hingga 5 persen saja. Prediksi ini dengan asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi Cina anjlok hingga 1 persen. 

    Di sektor pariwisata, Pemerintah telah menyiapkan insentif dengan memberikan alokasi tambahan sebesar Rp 298,5 miliar. Stimulus itu ditujukan untuk maskapai penerbangan dan agen agar bisa memberikan diskon khusus kepada pelancong. Total insentif diskon tiket pesawat ini senilai Rp 98,5 miliar. Sisanya dialokasikan untuk promosi sebanyak Rp 103 miliar, kegiatan pariwisata sebesar Rp 25 miliar, serta relasi media dan jasa pemengaruh (influencer) sebesar Rp 72 miliar.

    Untuk menggenjot jumlah kunjungan wisatawan domestik, pemerintah juga memberikan diskon 30 persen untuk 10 tujuan wisata prioritas. Potongan harga itu diberikan dengan kuota 25 persen dari jumlah kursi pesawat di setiap penerbangan. Destinasi wisata yang dimaksud antara lain Danau Toba, Yogyakarya, Malang, Manado, Bali, Mandalika, Labuan Bajo, Bangka Belitung, Batam, dan Bintan. Potongan itu akan berlaku selama tiga bulan dari Maret hingga Mei 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.