Garuda Indonesia di Ujung Tanduk

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Irfan Setiaputra mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 21 Juni 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Irfan Setiaputra mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 21 Juni 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah mencari jalan memutar untuk memperpanjang napas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Bisnis maskapai penerbangan ekor biru itu sedang berada di ujung tanduk akibat jeratan utang jatuh tempo terhadap lessor senilai US$ 7 miliar atau setara dengan Rp 100,6 triliun.

    Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN  mengatakan maskapai akan memfokuskan bisnis penerbangan ke pasar domestik. Strategi ini merupakan salah satu rencana bisnis untuk menekan biaya operasional penerbangan sekaligus memperluas potensi segmen market dalam negeri.

    Sedangkan untuk rute internasional, Garuda telah menjajaki kerja sama dengan maskapai Emirates agar tak kehilangan penumpang globalnya. “Bagaimanapun juga, kita tidak bisa tinggal diam, bukan? Yang namanya usaha dan mencari solusi harus tetap dipikirkan. Termasuk juga menyusun strategi dan fokus baru untuk bisnis penerbangan domestik Garuda," ujar Erick Thohir dalam pernyataan tertulisnya, Kamis, 4 November 2021.

    Kerja sama antara Garuda dan Emirates ditandai dengan perjanjian code sharing. Kerja sama code sharing merupakan aksi bisnis maskapai yang memungkinkan dua perusahaan berbagi penjualan tiket penerbangan untuk satu kode yang sama.

    Perjanjian ini secara resmi diteken oleh kedua perusahaan dalam pertemuan di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu, 3 November. Sembari berjalan, Garuda juga terus menjajaki renegosiasi dengan 31 lessor-nya.

    Pada Agustus 2021 lalu, Garuda menyusun proposal renegosiasi untuk disetorkan kepada para lessor dan kreditur. Sebagai penunjang proposal, maskapai menyiapkan beberapa rencana bisnis. Penyusunan proposal dan proses negosiasi melibatkan lima konsultan sekaligus. Konsultan-konsultan itu meliputi McKinsey & Company, Gunggenheim Partners, Cleary Gottlieb, Assegaf Hamzah & Partners, dan PT Mandiri Sekuritas.

    Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan proses restrukturisasi membutuhkan waktu cukup lama. “Kami inginnya cepat. Tapi kan tidak selalu gampang untuk melaksanakan negosiasi seperti ini,” ujar Irfan dalam pesan pendek kepada Tempo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.