Berbagai Teror di Masa Pandemi, Investor Was-was Ekonomi Tak Segera Pulih

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Te.co Blank

    Logo Te.co Blank

    TEMPO.COJakarta - Sejumlah kalangan khawatir teror bom dan baku tembak yang terjadi dalam sepekan terakhir bakal mempersulit proses pemulihan ekonomi di Tanah Air. Apalagi jika aparat tak bergerak cepat mengendalikan keamanan.

    Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyatakan, pergerakan indeks harga saham gabungan atau IHSG hari ini lebih dipengaruhi oleh sentimen di luar terorisme. "Saya lihat dampaknya baru level lokal, belum nasional," ujarnya ketika dihubungi, Kamis, 1 April 2021. 

    Perdagangan di lantai bursa saham pada sore hari ini ditutup dengan IHSG parkir di zona hijau di level 6.011,46 setelah sebelumnya berfluktuasi di 5.988,02 hingga 6.020,16. IHSG ditutup setelah menguat 25,93 poin atau 0,43 persen.   

    Adapun kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore ditutup stagnan atau sama dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 14.525 per dolar AS menjelang libur Hari Raya Paskah. "Rupiah terbantu sentimen stabilnya yield US Treasury dan indeks dolar," kata Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail dalam kajiannya.

    Meski begitu, kata dia, jika teror semakin sering, tak dapat dipungkiri persepsi para pemodal bisa berubah menjadi ragu untuk berinvestasi. Padahal investasi sedang digenjot betul oleh pemerintah sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di masa pandemi Covid-19, selain upaya mendorong konsumsi dan belanja pemerintah. 

    Hal senada disampaikan oleh analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama yang menjelaskan sentimen penggerak IHSG antara lain pasar yang mengapresiasi komitmen Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam menggelontorkan stimulus di bidang infrastruktur senilai US$ 2 triliun.

    “Obligasi AS untuk tenor 10 tahun ini juga mengalami koreksi wajar didukung market mengapresiasi kinerja PMI manufaktur Indonesia yang rata-rata menunjukkan ekspansif,” ujar Nafan. Selain itu dari dalam negeri, pasar mengapresiasi kinerja PMI Manufaktur Indonesia yang meningkat signifikan ke level 53,2 dari 50,9 dan inflasi yang terjaga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.