Menaruh Asa Baru pada Startup Berlabel Unicorn

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (dari kanan) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (tengah) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong memberikan paparan dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk 'Investasi Unicorn untuk Siapa?' di Jakarta, Selasa, 26 Februari 2019. FMB 9 ini membahas potret e-commerce dan start-up Indonesia di masa depan. Sejalan dengan hal tersebut pemerintah juga berusaha untuk menarik dan memfasilitasi para investor. TEMPO/Tony Hartawan

    (dari kanan) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (tengah) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong memberikan paparan dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk 'Investasi Unicorn untuk Siapa?' di Jakarta, Selasa, 26 Februari 2019. FMB 9 ini membahas potret e-commerce dan start-up Indonesia di masa depan. Sejalan dengan hal tersebut pemerintah juga berusaha untuk menarik dan memfasilitasi para investor. TEMPO/Tony Hartawan

    Rudiantara berpendapat, untuk mendukung penetrasi pertumbuhan bisnis perusahaan rintisan, perusahaan semestinya memberikan kelonggaran izin. Ia khawatir, jika persoalan regulasi tidak tertangani, angka perusahaan rintisan di Indonesia yang masuk golongan succes rate akan makin kecil.

    Chief Executive Officer Halodoc Jonathan Sudharta tak menampik bahwa butuh upaya besar untuk mengentaskan perusahaan rintisan hingga mencapai succes rate. Ia membeberkan, untuk mengail perolehan pendapatan Series B+, perusahaan teknologi yang berfokus menghubungkan masyarakat dan penyedia layanan kesehatan itu perlu waktu tiga tahun.  “Untuk mencapai itu, kami mesti melewati dua tahap. Tahap pertama, berfokus pda paid pain (kesakitan). Karena rata-rata startup yang gagal itu terjebak pada solution (solusi),” ujarnya.

    Artinya, startup yang jalan di tempat rata-rata hanya berfokus mencari solusi tanpa memusatkan perhatiannya pada kelemahan perusahaan. Kedua, fokus membidik pasar sesuai dengan pangsanya. Bila sudah mampu menjaring pasar, perusahaan akan lebih mudah menjajaki kerja sama dengan entitas lain untuk meningkatkan pendanaan.

    Jalan panjang bisnis rintisan sebagai tumpuan baru pertumbuhan ekonomi Indonesia tampaknya masih berliku. Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain & Company Florian Hoppe mengatakan Indonesia memiliki kesamaan karakteristik dengan negara raksasa digital Cina. Menurut dia, untuk bisa mengejar potensi seribu triliun, Indonesia harus bisa memaksimalkan utilisasi pembayaran digital. “Dari kisaran 264 juta penduduk, hanya 42 juta yang memiliki rekening bank, ini peluang besarnya,” kata Florian.

    Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Nailul Huda, optimistis, bertambahnya jumlah unicorn di Indonesia menandakan potensi ekonomi digital di Indonesia masih sangat besar. Ia berpendapat, saat ini masih banyak sektor-sektor yang masih bisa dimasuki oleh perusahaan rintisan. 

    “Mengacu kepada laporan Google dan Temasek, besaran ekonomi digital di Indonesia menyentuh angka yang sangat besar. Hal ini akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi,” tuturnya. Ke depan, ia mengatakan peluang pertumbuhan ekonomi digital masih cukup cerah. Namun, ada beberapa hambatan dari resesi yang mengakibatkan aliran investasi menjadi seret. 

    Menurut Nailul, pertumbuhan perusahaan rintisan dengan mentasnya unicorn-unicorn anyar ini bakal mendorong peningkatan kontribusi ekonomi digital terhadap pendapatan produk domestik bruto menjadi 11 persen. Adapun tahun ini, kontribusi ekonomi digital terhadap PDB ditaksir baru menyentuh 8-9 persen. Dua persen lagi untuk mewujudkan asa yang disematkan di bahu sang unicorn...

    HENDARTYO HANGGI | ANDI IBNU | EKO WAHYUDI | CAESAR AKBAR 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.