Cerobong PLTU Diduga Sumbang Polusi Udara Jakarta

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi udara di dekat Stadion Gelora Bung Karno yang penuh dengan kabut dan asap polusi di Jakarta, 27 Juli 2018. Bila dilihat dari aplikasi pemantau kualitas udara AirVisual pada Jumat, 27 Juli 2018, indeks kualitas udara (AQI) secara real time ada di urutan tiga dengan skor 161. REUTERS/Beawiharta

    Kondisi udara di dekat Stadion Gelora Bung Karno yang penuh dengan kabut dan asap polusi di Jakarta, 27 Juli 2018. Bila dilihat dari aplikasi pemantau kualitas udara AirVisual pada Jumat, 27 Juli 2018, indeks kualitas udara (AQI) secara real time ada di urutan tiga dengan skor 161. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Temuan awal tim peneliti ITB mendapati senyawa organik dalam kandungan debu halus (berukuran 2,5 ppm) di antara polusi udara Jakarta. Membaginya ke dalam empat fraksi, bagian terbesar memang diidentifikasi dari debu jalanan sebesar 14 persen. Tapi yang mengejutkan kedua terbesar, yakni sampai 8 persen, identik dengan senyawa yang dihasilkan dari pembakaran batu bara di PLTU.

    “Ada indikasi bahwa dari pembakaran batu bara ada yang sampai Jakarta,” kata Puji Lestari, Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, saat ditemui Tempo di Bandung, pertengahan Juni 2019.

    Puji dan tim mengumpulkan sampel debu di tiga lokasi, di antaranya area parkir Monumen Pancasila di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Hasil di lokasi ini sama dengan yang didapatinya dari Taman Kebon Jeruk Intercon, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di lokasi perumahan mewah ini, senyawa organik dalam particulate matter atau PM2,5 yang diduga berasal dari cerobong PLTU bahkan sampai 9 persen.

    Belum diketahui untuk hasil pengambilan sampel yang sama di lokasi ketiga yaitu Kompleks GBK Senayan, Jakarta Pusat, karena masih diteliti.Di tiga lokasi itu mereka mengambil sampel dan menguji kandungan kimianya sepanjang November 2018 sampai Februari 2019. Total pengambilan sampel sampai 30-40 kali dan akan diulangi lagi di musim kemarau ini.

    Dari temuan awalnya, Puji memastikan adanya kandungan sisa pembakaran batu bara yang masuk ke Jakarta tersebut. Dia menyatakan harus melakukan riset lanjutan untuk melacak lokasi sumber pembakaran itu. “Saya belum melihat apakah itu semua murni berasal dari batubara pembangkit (PLTU) atau mungkin ada sumber yang lain,” ujar dia.

    Penelitian terpisah yang dilakukan Greenpeace Indonesia menguatkan indikasi debu pembakaran batu bara bertamu di udara Jakarta. Greenpeace melakukannya lewat pemodelan perangkat lunak (software) Calmet Calpuff. Pemodelan itu memperhitungkan baku mutu emisi 12 PLTU dalam radius 100 kilometer di luar Jakarta—didapat dari dokumen Amdal setiap PLTU tersebut—dan kondisi klimatologis di sekitarnya.

    Selusin pembangkit itu tersebar di 11 lokasi. Sebagian, yakni tujuh unit di antaranya, sudah beroperasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.