Perang Dagang, Kala Indonesia Takluk dari Vietnam

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin 8 Juli 2019. Pada Sidang Kabinet Paripurna tersebut presiden mengajak para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan program kerja yang belum tuntas, menaikkan neraca perdagangan serta meningkatkan investasi. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    Presiden Joko Widodo memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin 8 Juli 2019. Pada Sidang Kabinet Paripurna tersebut presiden mengajak para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan program kerja yang belum tuntas, menaikkan neraca perdagangan serta meningkatkan investasi. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Meskipun sama-sama terdampak oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina, ternyata negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki cerita yang berbeda. Indonesia ternyata termasuk yang kesulitan meraup celah  positif di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini.

    Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Taufik Ahmad mengatakan bahwa Indonesia tidak terkena dampak negatif perang dagang yang terlalu parah. Tapi, Indonesia juga sulit memanfaatkan peluang positif dari perang dagang ini. 

    Sebagai contoh, Taufik menunjukkan salah satu aspek, yaitu investasi. Pasca perang dagang, negara lain di Asia Tenggara banyak yang menerima limpahan investasi yang dialihkan dari Amerika Serikat, tapi tidak dengan Indonesia. Musababnya, Indonesia tidak didukung oleh kemudahaan berusaha yang cukup. “Ini ada masalah dalam kemudahan bisnis kita, korupsi dan birokrasi yang tidak efisien,” kata Taufik dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2019 yang diadakan oleh Indef di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa, 16 Juli 2019. 

    Lebih rinci, Indef mencatat tiga aspek yang semestinya dapat memetik keuntungan dari perang dagang Amerika Serikat - Cina. Pertama adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Dampak atau output positif perang dagang terhadap PDB Indonesia diperkirakan Indef hanya sekitar 0,01 persen. Angka perkiraan ini membuat Indonesia kalah telak dibandingkan Vietnam yang diperkirakan bisa mencapai 0,52 persen, tertinggi dari negara Asia Tenggara lainnya. Indonesia juga kalah dari Thailand dan Malaysia, yang masing-masing 0,11 persen dan 0,06 persen.

    Kedua yaitu dampak perang dagang terhadap ekspor. Dalam komponen ini, Indonesia kalah jauh dibandingkan negara-negara tetangga. Akibat perang dagang ini, kinerja ekspor Indonesia justru terkena imbas negatif hingga 0,24 persen. Sebaliknya, Vietnam kembali mencatat angka tertinggi dengan 2,58 persen. Lalu, Thailand dan Malaysia masih mencatat dampak positif sebesar 0,23 persen dan 0,39 persen.

    Adapun aspek ketiga adalah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.