Kejar Tayang Vaksin Merah Putih Dulu, Target Market Kemudian

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menyuntikkan dosis vaksin Covid-19 pada warga di SDN 05 Kembang Sepatu, Kramat, Jakarta, Selasa, 17 Agustus 2021. Beberapa warga membawa bendera merah putih kecil untuk memperingati 17 Agustus. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis menyuntikkan dosis vaksin Covid-19 pada warga di SDN 05 Kembang Sepatu, Kramat, Jakarta, Selasa, 17 Agustus 2021. Beberapa warga membawa bendera merah putih kecil untuk memperingati 17 Agustus. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengebut proyek penelitian vaksin merah putih untuk Covid-19. Kepala BRIN Laksana Tri Handaka mengatakan pemerintah telah menargetkan vaksin merah putih akan memperoleh izin edar pada semester II 2022.

    Setelah berhasil diproduksi, dia mengklaim penyerapan produk vaksin Tanah Air itu tidak akan menemui hambatan karena permintaannya besar. Vaksin lokal ini dikembangkan menggunakan isolat virus corona di dalam negeri sehingga diklaim akan lebih cocok dan efektif bagi penduduk Indonesia.

    “Kalau komitmen industri tidak akan jadi masalah karena kebutuhan yang besar. Yang penting harus lolos semua tahapan dan teruji,” ujar Laksana saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 September 2021.

    Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kebutuhan minimal vaksin untuk industri dalam negeri mencapai 179 juta penyuntikan dari total 256 juta penduduk. Setiap orang masing-masing membutuhkan dua kali penyuntikan atau dua dosis.

    Laksana menegaskan persoalan utama pengembangan vaksin bukan terletak pada hasil jadinya, melainkan prosesnya. Selama proses riset berlangsung, Laksana mengemukakan peneliti menghadapi kendala uji praklinis, seperti ketersediaan infrastruktur animal-BSL-3 (a-BSL-3) dan fasiitas GMP untuk produksi terbatas bagi setiap platform.

    Sembari menunggu ketersediaan fasilitas tersebut, peneliti akan memanfaatkan fasilitas uji praklinis eksisting. “Itu sebabnya BRIN akan menyediakan 2 fasilitas tersebut, meski harus dikebut. Harapan kami bisa sebelum kuartal I 2022 selesai,” ujar Laksana.

    Saat ini pengembangan vaksin melibatkan sejumlah lembaga, perusahaan farmasi, dan perguruan tinggi. Namun yang paling menunjukkan kemajuan adalah penelitian Universitas Airlangga bersama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia dan Lembaga Eijkman bersama PT Bio Farma (Persero).

    Penelitian vaksin yang dikembangkan UNAIR dan Biotis, misalnya, telah menyelesaikan tahap eksplorasi laboratorium. Tahapan itu menghasilkan master bibit vaksin dari pasien Covid-19 asal Indonesia. Penelitian akan dilanjutkan dengan tahap pengujian praklinis yang diharapkan selesai pada 30 September.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.