Kala Virus Corona Menggoyang Ekonomi Indonesia

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana hari pertama di lokasi observasi WNI yang dievakuasi dari Wuhan, Cina di sebuah hanggar di Lanud Raden Sadjad, Natuna dalam foto yang diunggah pada Senin, 3 Februari 2020. Sebanyak 238 WNI menjalani masa karantina selama 14 hari untuk memastikan tidak tertular virus corona. Twitter/@Kemenkes

    Suasana hari pertama di lokasi observasi WNI yang dievakuasi dari Wuhan, Cina di sebuah hanggar di Lanud Raden Sadjad, Natuna dalam foto yang diunggah pada Senin, 3 Februari 2020. Sebanyak 238 WNI menjalani masa karantina selama 14 hari untuk memastikan tidak tertular virus corona. Twitter/@Kemenkes

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyebaran virus corona yang tak kunjung reda bahkan semakin meluas tak pelak membuat pemerintah Indonesia panas-dingin. Bagaimana tidak, Cina, negara pusat penyebaran virus mematikan itu, adalah mitra utama Indonesia dalam segala lini bisnis. Ketergantungan ekonomi antara kedua negara ini sangat besar.

     “Turis Cina yang datang ke Indonesia juga mencapai 2 juta orang tahun lalu,” kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, saat dihubungi di Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020.

    Di sisi investasi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM ) mencatat Cina sebagai negara yang menanamkan investasi terbesar di Indonesia sepanjang Triwulan IV 2019. Nilai investasi Cina di Indonesia sebesar US$ 1,4 miliar atau 20,4 persen dari seluruh investasi.

    "FDI (Foreign Direct Invesment) Tiongkok itu meningkat. Memang kami tawarkan ke semua negara. Pemerintah Indonesia tidak memberikan skala prioritas kepada Cina tapi mereka lebih agresif," kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia di kantornya, Jakarta, 29 Januari 2020.

    Dia mengatakan realisasi investasi Cina pada 2019 sebesar 83 persen. Bahlil mengatakan Cina berani berinvestasi di banyak sektor, salah satunya di infrastruktur hilir yang tidak banyak dilakukan negara lain. "Feasibility study dan intuisi (Cina) itu seimbang. Kalau Jepang lama. Makanya Jepang tergeser," ujar dia.

    Di sisi perdagangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama ini 16 persen komoditas ekspor Indonesia dikirim ke Cina. Pun sebaliknya, 22 persen produk impor yang masuk ke Indonesia berasal dari Negeri Tirai Bambu ini.

    Iskandar juga menyampaikan, tahun 2019 lalu, total ekspor non-migas Indonesia mencapai US$ 154,99 miliar (92,52 persen dari total ekspor). Dari jumlah ini, negara tujuan terbesar ekspor non-migas Indonesia adalah Cina dengan nilai US$ 25,85 miliar atau 16,68 persen.

    Situasi yang sama terjadi pada impor. Tahun 2019, total impor non-migas Indonesia mencapai US$ 148,84 miliar (87,18 persen dari total impor). Dari jumlah ini, negara asal impor terbesar kembali adalah Cina, dengan nilai US$ 44,58 miliar atau 29,95 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.