Menimbang Dua Calon Pendamping Anies Baswedan

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) berjabat tangan dengan Sandiaga Uno (kiri) seusai pengunduran diri Sandiaga sebagai Wakil Gubernur DKI di Balai Kota, Jakarta, Jumat, 10 Agustus 2018. Sandiaga resmi mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI untuk menjadi calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Prabowo Subianto dalam pilpres 2019. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) berjabat tangan dengan Sandiaga Uno (kiri) seusai pengunduran diri Sandiaga sebagai Wakil Gubernur DKI di Balai Kota, Jakarta, Jumat, 10 Agustus 2018. Sandiaga resmi mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI untuk menjadi calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Prabowo Subianto dalam pilpres 2019. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah hampir dua tahun kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak ditinggalkan Sandiaga Uno pada Agustus 2018. Partai koalisi pendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yakni Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), baru menemukan titik temu ihwal calon pengisi wakil gubernur pada pertengahan Januari kemarin.

    Dua nama sudah masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta. Mereka adalah Ahmad Riza Patria yang merupakan jagoan Gerindra. Lalu Nurmansjah Lubis, kader binaan PKS.

    Usai dikenalkan ke publik, kini keduanya sedang bersafari mendatangi fraksi-fraksi di DPRD DKI Jakarta. Riza dan Nurmansjah pun tak sungkan melontarkan rencana kerjanya bila nanti terpilih menjadi wakil gubernur Jakarta.

    Ketua Fraksi Golkar DKI Jakarta, Basri Baco, mengatakan pemerintah Gubernur Anies Baswedan masih mempunyai waktu 2,5 tahun. Menurut dia, gubernur membutuhkan wakil yang paham dan berkomitmen tinggi untuk membangun ibu kota.

    "Sisa waktu 2,5 tahun ke depan ini menjadi sangat penting karena ada transisi perpindahan ibu kota dari pulau Jawa (ke Kalimantan)," katanya. "Jadi kalau gubernur dan wagub tidak kuat, tak bisa bergandengan tangan dengan DPRD atau Legislatif maka akan tidak maksimal proses itu," sebut Baco di Jakarta, Rabu, 29 Januari 2020.

    Baco melihat komunikasi antara eksekutif dan legislatif selama ini juga kurang baik. Ia berharap Wagub yang nantinya terpilih bakal menjadi jembatan penghubung antara eksekutif dan legislatif agar bisa bekerja dengan baik.

    Wakil Ketua Komisi II DPR, Ahmad Riza Patria. ANTARA FOTO

    Ahmad Riza percaya diri menghadapi persaingan dengan Nurmansjah di DPRD. Politikus berusia 50 tahun ini menegaskan tak melakukan lobi-lobi khusus kepada sejumlah partai di dewan. Dia menyebut diskusi-diskusi bisa dilakukan melalui media.

    "Sekarang ini zamannya digital. Jadi tidak ada lobi-lobi khusus saya kepada anggota DPRD. Kami serahkan sepenuhnya kepada anggota DPRD yang kami hormati ya," ujar Riza. Ia pun tak keberatan bila dalam proses pemilihan wakil gubernur nantinya harus melewati uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test.

    Ihwal program kerja, Riza menyebut, akan meneruskan program kerja yang belum sempat dilakukan koleganya, Sandiaga Uno. Setelah berdiskusi dengan Sandiaga, Riza mendapat pesan agar istiqomah, konsisten melaksanakan visi, misi, dan program saat kampanye di Pilgub Jakarta pada 2017. "Tentu saya mengerti apa yang menjadi visi misi Pak Anies dan Sandi dulu," sebut dia.

    Riza juga diminta oleh Sandiaga agar sering turun ke lapangan dan menemui warga bila sudah menjadi wakil gubernur. Ia pun menyatakan akan berkomunikasi dengan kandidat wakil presiden itu jika nanti terpilih sebagai orang nomor dua di Jakarta. "Banyak belajar lagi sama pak Sandi kalau terpilih," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.