Mengukur Dampak Wabah Virus Corona terhadap Ekonomi RI

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wisatawan asing asal China antre di konter lapor diri (check-in) Terminal Keberangkatan Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Selasa 28 Januari 2020. Agen biro perjalanan China memulangkan ratusan wisatawannya yang sedang berkunjung di Batam menyusul merebaknya wabah virus Corona, selain itu pihak Bandara Hang Nadim juga menghentikan sementara penerbangan dari China ke Batam sampai batas waktu yang belum ditentukan. ANTARA FOTO/M N Kanwa

    Sejumlah wisatawan asing asal China antre di konter lapor diri (check-in) Terminal Keberangkatan Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Selasa 28 Januari 2020. Agen biro perjalanan China memulangkan ratusan wisatawannya yang sedang berkunjung di Batam menyusul merebaknya wabah virus Corona, selain itu pihak Bandara Hang Nadim juga menghentikan sementara penerbangan dari China ke Batam sampai batas waktu yang belum ditentukan. ANTARA FOTO/M N Kanwa

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyebaran virus corona yang terjadi di Wuhan, Cina, memang belum berdampak secara langsung terhadap perekonomian Indonesia karena belum ada pembatasan ekspor-impor. Meski begitu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menuturkan penyebaran virus corona bisa berdampak pada kinerja perdagangan dalam negeri. 

    Menurut dia, wabah ini telah membuat aktivitas ekonomi Cina melambat. "Padahal seharusnya kita bisa menikmati keuntungan dari pemulihan ekonomi Cina setelah trade deal Amerika Serikat (AS)-Cina tahap  pertama," ujar Shinta kepada Tempo, Rabu 29 Januari 2020.

    Shinta mengatakan wabah ini menyebabkan permintaan Cina terhadap ekspor dari negara lain, termasuk Indonesia menjadi tidak berkembang sesuai proyeksi. Ia mencontohkan, pada periode tahun baru Imlek lalu seharusnya permintaan dari Cina terhadap produk consumer goods dari seluruh dunia meningkat. Namun, kata dia, yang terjadi justru permintaan tak naik signifikan. 
     
    Secara keseluruhan, kondisi ini memperlambat pemulihan ekonomi dunia, khususnya AS dan Uni Eropa, karena rantai pasok dari Cina terganggu. Sehingga, secara tidak langsung hal tersebut menganggu pemulihan permintaan global terhadap produk Indonesia.
     
    "Kita juga (harus) antisipasi Purchasing Manager Indeks (PMI)  China melambat atau setidaknya stagnan di triwulan satu dan pertumbuhan ekonomi global juga akan tetap sluggish (lamban) dengan kecenderungan semakin tertekan," kata Shinta. 
     
    Shinta mengatakan sektor usaha yang berpotensi terpengaruh besar akibat wabah ini adalah sektor jasa seperti logistik, transportasi, pariwisata, dan retail karena sektor ini seharusnya paling sibuk dan paling produktif pada masa liburan imlek di Cina. Sementara itu, untuk sektor barang yang terdampak, yaitu produk manufaktur consumer goods, khususnya food and beverages, serta rantai pasoknya seperti perikanan, pertanian, atau perkebunan. 
     
    Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan dampak jangka pendek yang terjadi akibat wabah virus corona adalah timbulnya permintaan masker, sarung tangan karet, atau alat pelindung diri lainnya dari negara terdampak. Menurut dia, sektor yang terpukul adalah penerbangan, perhotelan, pariwisata. 
     
    Selain itu, kata dia, penyebaran virus ini bisa berdampak pada terganggunya impor bahan baku untuk industri makanan dan Minuman dari Cina. "Adapun dampak jangka panjang tergantung progres penanggulangan virus corona ini. Kalau penyebarannya tidak tertangani maka landscape perdagangan dunia akan berubah," ujar Benny.
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.