Ada Isu Radikalisme dalam Seleksi Calon Pimpinan KPK

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel Capim KPK) usai bertemu dengan pimpinan KPK, pada Rabu, 12 Juni 2019 TEMPO/Andita Rahma

    Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel Capim KPK) usai bertemu dengan pimpinan KPK, pada Rabu, 12 Juni 2019 TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan heran dituding radikal hanya karena jenggot dan cara berpakaiannya. Dia mempertanyakan kaitan mode yang ia pilih dengan isu ada penyidik 'Taliban' di KPK. "Ketika seseorang punya jenggot seperti saya, kadang menggunakan celana sesuai dengan sunah rasul, terus dipermasalahkan?" kata Novel di depan kantornya, Kamis, 20 Juni 2019.

    Baca: Gandeng BNPT, Pansel KPK Dinilai Fokus Cari Figur Antiteroris

    Isu berkembangnya radikalisme di tubuh KPK memang tengah mencuat di media sosial belakangan ini. Pegiat media sosial Denny Siregar menuliskan hal itu di laman Facebooknya pada 13 Juni 2019. Dalam tulisannya, ia mengaku mendengar desas-desus bahwa ideologi radikalisme berkembang di KPK sejak lama.

    Dalam tulisannya, ia juga menyitir soal isu faksi 'Polisi Taliban' dan 'Polisi India' di KPK. Isu itu pertama kali diucapkan Direktur Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane. Dia menyampaikan hal itu dalam konteks perseteruan antara penyidik polri dan penyidik internal KPK pada April lalu.

    Ketua tim panitia seleksi (Pansel) calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023, Yenti Ganarsih bersama tim saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 17 Juni 2019. TEMPO/Subekti.

    Denny menyebut faksi Taliban adalah kelompok agamis dan ideologis. Ketika bicara soal faksi ini, Denny menyinggung nama Novel Baswedan dan mantan komisioner KPK Bambang Widjojanto. Menurut dia, kelompok Taliban memiliki pengaruh kuat di KPK. Kelompok ini bahkan bisa menentukan kasus yang harus diangkat dan kasus yang dihilangkan.

    Tulisan tersebut kemudian disebarkan oleh kader Nahdlatul Ulama, Akhmad Sahal melalui akun Twitternya @Sahal_AS pada 13 Juni 2019. “Banyak pendukung KPK yg belakangan dirundung kecemasan.. Mrk bertanya2, betulkah kaum “Islam cingkrang” makin menguat di KPK? Tulisan Bung @Dennysiregar7 ini mencerminkan kecemasan tsb. Yuk kawal KPK. Jgn sampe lembaga vital NKRI ini terpapar radikalisme. #SaveKPK" twit akun itu.

    Baca: Pansel KPK: Jokowi Dukung Pelibatan BNPT dan BNN

    Denny juga merespon langkah panitia seleksi calon pimpinan KPK periode 2019-2023 melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dalam proses seleksi. "Kriteria ini baru saya dengar, dan ikut senang membacanya," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.