Partai Koalisi Berebut Ekor Jas Jokowi - Prabowo di Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, tertawa bersama saat berbincang di sela acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. REUTERS/Darren Whiteside

    Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, tertawa bersama saat berbincang di sela acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. REUTERS/Darren Whiteside

    Sejumlah lembaga survei memang menunjukkan kecenderungan efek ekor jas ini. Sigi Alvara Research Center, misalnya, menunjukkan tingkat elektabilitas PDI Perjuangan melonjak dari 24,9 persen pada Juli 2018 menjadi 29,9 persen per Oktober 2018. Begitu pula Gerindra, yang tingkat keterpilihannya naik dari 15,6 persen menjadi 18,4 persen pada periode yang sama. Tren elektabilitas partai lain cenderung menurun kalau tidak landai.

    Sebagaimana Alvara, hasil sigi Lingkaran Survei Indonesia menunjukkan tren elektabilitas PDI Perjuangan dan Gerindra naik dari Januari sampai September 2018. Tingkat keterpilihan partai banteng terkerek dari 22,2 persen menjadi 24,8 persen, sedangkan Gerindra dari 11,4 persen menjadi 13,1 persen.

    Naiknya hasil sigi beberapa lembaga survei ini membuat partai penyokong cemburu. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat terang-terangan mengatakan partainya saat ini akan fokus untuk Pemilihan Legislatif.

    Direktur Pencapresan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suhud Aliyudin mengatakan setuju dengan curhatan SBY soal efek ekor jas yang hanya menguntungkan Gerindra. "Coattail effect atau efek ekor jas terbesar ya ke Gerindra. Kami merasakan hal yang sama dengan Partai Demokrat," kata Suhud kepada Tempo pada Jumat, 16 November 2018. Ia mengatakan PKS harus bekerja keras untuk mendapatkan suara.

    Baca:PKS Setuju Curhat SBY Soal Efek Ekor Jas hanya Untungkan Gerindra

    Suhud menuturkan partai-partai yang tidak memiliki capres akan memecah pikiran mereka untuk pemilihan legislatif dan pemilihan presiden yang digelar bersamaan. Itu artinya, partai harus bekerja di dua level. Suhud mengakui sistem ini bisa menguras energi partai.

    Untuk mengatasi perselisihan di internal, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan partainya mewakafkan Sandiaga Uno untuk partai koalisi pengusung Prabowo Subianto - Sandiaga di Pilpres 2019.

    Simak: Gerindra Wakafkan Sandiaga untuk Partai Koalisi Prabowo

    Muzani mengatakan Gerindra juga berkepentingan agar partai koalisi juga menikmati efek ekor jas atau coattail effect dari Prabowo - Sandiaga demi kepentingan pemilihan legislatif. Dia mengakui pemenangan pileg partai koalisi penting untuk menyokong pemerintahan nantinya. "Ketika takdir Pak Prabowo jadi presiden, mereka-merekalah yang mengamankan posisi kebijakan Pak Prabowo di parlemen," kata Muzani.

    Perdebatan soal efek ekor jas bukan hanya menghantui kubu Prabowo - Sandiaga, partai pengusung Jokowi - Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 juga mengalami persoalan serupa.

    Bagaimana perebutan ekor jas di kubu Jokowi - Ma'ruf? Baca terusannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.