Minggu, 18 November 2018

Beda Pandangan Politik, Pendukung Trump Kirim Sejumlah Bom Pipa

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • File foto Cesar Altieri Sayoc di Ft. Lauderdale, Florida, AS, 27 Januari 2015. Cesar Sayoc diketahui lewat media sosial, dirinya merupakan seorang pendukung Donald Trump. Broward County Sheriff's Office/Handout via REUTERS

    File foto Cesar Altieri Sayoc di Ft. Lauderdale, Florida, AS, 27 Januari 2015. Cesar Sayoc diketahui lewat media sosial, dirinya merupakan seorang pendukung Donald Trump. Broward County Sheriff's Office/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mencuit mengenai kondisi di negaranya, yang dinilai diwarnai kemarahan antar kelompok sosial hingga kelompok politik. Dia menuding media dan pemberitaan yang keliru ikut berperan memunculkan kemarahan publik.

    Baca:

    Teror Bom Pipa, FBI Tangkap Tersangka di Florida Amerika

     

    “Ada kemarahan besar di negara kita disebabkan, sebagiannya, oleh laporan berita yang tidak akurat bahkan menipu. Media berita bohong, yang merupakan musuh rakyat sebenarnya, harus menghentikan sikap bermusuhan terbuka dan terang-terangan. Dan melaporkan berita secara akurat serta adil. Itu akan berdampak banyak untuk memadamkan nyala api,” kata Trump lewat akun Twitter @realdonaldtrump pada Senin, 29 Oktober 2018 waktu setempat.

    Trump juga mencuit beberapa hari sebelumnya mengenai sikap kebencian yang muncul di tengah publik AS.

    Baca:

    “Media berita bohong melakukan semua yang bisa mereka lakukan untuk menyalahkan Partai Republik, kelompok konservatif, dan saya atas munculnya kondisi perpecahan dan kebencian yang telah berlangsung lama di negara kita. Sebenarnya, laporan berita mereka yang bohong dan tidak jujur itu yang menyebabkan munculnya masalah jauh lebih besar dari yagn mereka pahami,” kata Trump.

    Selama dua pekan terakhir ini, seperti dilansir Reuters, publik AS dihebohkan oleh pengiriman bom pipa kepada sejumlah tokoh dan media yang kerap mengkritik dan dikritik Presiden Trump.

    Pelaku, yang akhirnya tertangkap sepekan kemudian, bermama Cesar Sayoc, seorang bekas penari telanjang, yang mendukung Presiden Trump dan tidak menyukai kelompok liberal dan Partai Demokrat.

    Dan pada akhir pekan lalu, seorang lelaki bernama Robert Bowers, 46 tahun, mendatangi Sinagoga Tree of Life dan menembaki jamaah yang sedang berdoa. 11 orang tewas dalam penembakan massal, yang menjadi serangan paling mematikan dalam sejarah komunitas Yahudi di AS, seperti dilansir Reuters.

    Jaksa menuntut Bowers dengan 29 dakwaan dalam kasus yang disebut sebagai kejahatan kebencian. Sidang perdana kasus ini telah digelar pada Senin, 29 Oktober 2018 dan akan kembali digelar pada Kamis pekan ini.

    Baca:

     
     

    Tindak kejahatan kebencian juga terjadi pada pekan lalu, seperti dilansir situs NPR. Saat itu Gregory Bush, 51 tahun, menembak mati dua warga kulit hitam Maurice Stallard, 69 tahun, dan Vickie Lee Jones, 67 tahun, di sebuah supermarket di Jeffersontown, Kentucky.

    Bush, sebelum melakukan penembakan, diketahui sempat berusaha memasuki sebuah sebuah gereja yang mayoritas jamaahnya kulit hitam. “Ada indikasi Bush memilih targetnya karena warna kulit mereka,” begitu dilansir NPR.  

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), dan anggota DPR AS, Adam Schiff, kiri. Fox News


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.