Transaksi Atut di Luar Negeri Ditelusuri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Koran Tempo. (ILUSTRASI: INDRA FAUZI)

    Ilustrasi Koran Tempo. (ILUSTRASI: INDRA FAUZI)

    TEMPO.CO, Jakarta-Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) akan menelusuri seluruh transaksi Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah di luar negeri. “Insya Allah akan kami lakukan,” kata Kepala PPATK Muhammad Yusuf kepada Tempo kemarin.

    Penelusuran itu, kata Yusuf, untuk membantu Komisi Pemberantasan Korupsi mengusut kasus dugaan korupsi keluarga Atut. Komisi antikorupsi saat ini tengah menyidik kasus dugaan suap adik Atut, Tubagus Chaeri Wardana, terhadap Akil Mochtar (kala itu Ketua Mahkamah Konstitusi) terkait dengan sengketa Pemilihan Bupati Lebak, Banten. Tak hanya itu, Komisi juga tengah menelisik dugaan korupsi dana bantuan sosial dan alat kesehatan Banten.

    Sumber Tempo menyebutkan, sepanjang Mei 2011-Mei 2012, Atut tercatat kerap bepergian ke luar negeri dan membelanjakan duitnya untuk membeli barang-barang mewah. Selama kurun waktu itu, nilai transaksi belanja barang mewah Atut tercatat di atas Rp 2 miliar.

    Pada 6 Februari 2012, Atut terbang ke Tokyo, Jepang, via Bandara Changi, Singapura. Dari Jakarta ke Singapura, ia menumpang Singapore Airlines SQ 967. Empat hari di Tokyo, Atut memborong produk Hermes hingga Rp 430 juta. Di kota itu, dia juga mampir ke toko jual-beli barang mewah Daikokuya dan belanja hampir Rp 100 juta.

    Sebagian transaksi Atut itu menggunakan sejumlah kartu kredit, sebagian diterbitkan bank asing. Dari dokumen yang diperoleh Tempo, tagihan paling besar tercatat pada Februari 2012, senilai Rp 650 juta. Kala itu Atut memboyong produk Hermes dan Daikokuya di Tokyo. Sepanjang Februari 2012, Atut tercatat melakukan pembayaran kartu kredit Rp 1 miliar.

    Direktur Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi menilai gaya hidup Atut membeli produk mewah di luar negeri tidak linier dengan penghasilannya. Dari penelusuran Fitra, kata Uchok, penghasilan Atut sepanjang 2012 tercatat hanya Rp 261 juta per bulan. Itu sudah termasuk gaji pokok, tunjangan jabatan, tunjangan uang operasional, dan insentif pajak daerah. “Jika dibandingkan dengan gaya hidup Atut, gaji itu tidak cukup,” katanya.

    Sampai kemarin, Ratu Atut Chosiyah belum bisa dimintai konfirmasi soal ini. Tapi, ketika dihubungi Tempo pada akhir pekan lalu, Ratu Tatu Chasanah, adik Atut, tak membenarkan atau membantah kakaknya itu kerap bepergian ke luar negeri dan membeli barang-barang mewah. “Kami keluarga pengusaha. Jadi, kehidupan kami laiknya kehidupan pengusaha,” kata dia. “Kami bukan gelandangan yang mendadak menikmati kekayaan ketika jadi pejabat.”

    ANTON APRIANTO | ANTON SEPTIAN | HADRIANI P | MAYA NAWANGWULAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.