Ragu yang Masih Membayangi Penyerangan Novel Setelah 3 Tahun

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik Senior KPK Novel Baswedan menyapa awak media usai berlangsungnya rekonstruksi penyiraman air keras di kediamannya, Jakarta, Jumat, 7 Februari 2020. Novel Baswedan tidak dapat mengikuti proses rekontruksi dikarenakan alasan kesehatan pada mata kirinya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Penyidik Senior KPK Novel Baswedan menyapa awak media usai berlangsungnya rekonstruksi penyiraman air keras di kediamannya, Jakarta, Jumat, 7 Februari 2020. Novel Baswedan tidak dapat mengikuti proses rekontruksi dikarenakan alasan kesehatan pada mata kirinya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, JakartaSudah tiga tahun kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, berlalu. Namun, sejumlah pihak termasuk Novel masih menyimpan keraguan dari penuntasan perkara ini.

    Kepolisian memang telah menangkap dua orang yang disebut pelaku dalam penyerangan tersebut. Kedua pelaku ini, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette, adalah anggota polisi aktif. 

    Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan kedua pelaku yang ditangkap hanyalah eksekutor di lapangan. Menurut dia, hal tersebut dilakukan untuk membatasi proses hukum agar tidak bisa menjangkau dalang dari kasus tersebut. “Mirip seperti dalam kasus pembunuhan terhadap Munir,” kata Usman dalam diskusi pada Sabtu, 11 April 2020.

    Usman mengatakan dalam kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia, Munir Said Thalib, pun pelaku yang dimunculkan hanya eksekutor di lapangan. Ia menuturkan aparat penegak hukum belum mengungkap dalang di balik pembunuhan tersebut.

    Pada kasus Munir, kata Usman, pembunuhan seolah bisa direncanakan oleh satu orang. Padahal, menurut dia, pembunuhan dalam penerbangan internasional seperti yang terjadi kepada Munir, tidak mungkin dilakukan seorang diri. "Itu dari tim pencari fakta ada oknum di Garuda (Garuda Indonesia), bahkan sampai di persidangan majelis hakim mengatakan ada yang bekerja untuk operasi intelijen," katanya.

    Menurut Usman hal ini juga terjadi di kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Ia menyebut pengakuan motif dendam pribadi seolah-olah penyerangan ini tidak berhubungan dengan kasus korupsi yang tengah ditangani Novel pada 2017.

    Koalisi masyarakat pun bolak-balik menyatakan keraguan pengusutan perkara ini. Salah satu kejanggalan yang belum terungkap adalah siapa orang-orang yang memata-matai rumah Novel beberapa hari sebelum penyiraman air keras itu terjadi. 

    Novel diserang dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Salah satu penyerang menyiramkan air keras, yang mengenai mata Novel, saat penyidik kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik itu pulang salat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya.

    Dalam diskusi yang disiarkan secara online, Novel mengatakan sudah mendapat laporan dari beberapa tetangganya bahwa ada orang-orang mencurigakan yang mengawasi tempat tinggalnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

    Menurut Novel, orang-orang ini ada yang sekedar duduk di sepeda motor bahkan ada yang pura-pura senam.  Selain itu, ada juga seorang pria yang berpura-pura ingin membeli baju gamis di rumah Novel. Istri penyidik KPK ini memang membuka usaha rumahan berjualan baju gamis. Tapi khusus perempuan.

    Belakangan polisi menyebut orang-orang asing yang terlihat di rumah Novel sebagai informan polisi. Namun, keterangan ini berubah. Polisi menyebut mereka sebagai mata elang, istilah yang merujuk pada orang-orang yang bertugas sebagai penagih utang di leasing. 

    Kemudian ketika polisi menangkap Rony dan Rahmat, para tetangga melapor kepada Novel. "Tetangga saya juga bilang, rasanya bukan itu pelakunya, pak. Lantas bagaimana? Saya harus percaya siapa?" ucap Novel.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.