Kisah Inspiratif Warga di 3 Negara Ini Cegah Virus Corona

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aplikasi 100m dibuat warga Korea Selatan untuk membantu orang-orang dalam radius 100 meter mendapat notifikasi apakah area itu terkena wabah virus Corona . [BUSINESS INSIDER]

    Aplikasi 100m dibuat warga Korea Selatan untuk membantu orang-orang dalam radius 100 meter mendapat notifikasi apakah area itu terkena wabah virus Corona . [BUSINESS INSIDER]

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika orang-orang panik menghadapi wabah virus Corona dengan menyetok barang-barang yang dianggap perlu untuk menjaga kelangsungan hidupnya, sejumlah orang malah memikirkan cara untuk membantu orang lain agar terhindar dari infeksi virus itu.

    Wabah virus Corona yang cepat penyebarannya membuat masyarakat dunia tidak siap mengantisipasinya. Hingga awal Maret ini, sudah sekitar 70 negara terjangkit virus Corona, 3 ribu orang tewas akibat terinfeksi virus mematikan ini, dan sekitar 90 ribu kasus infeksi resmi terdata.

    Ketika korban pertama berjatuhan di Wuhan, provinsi Hubei, dan pemerintah Cina memberlakukan isolasi, kota terbesar keempat di Cina seketika berubah bagaikana kota hantu. Mereka yang terkunci di Wuhan beberapa hari kemudian sadar atas kesepian dan mereka pun mulai mencari cara untuk membangun kebersamaan.

    Dari jendela suara terdengar teriakan warga Wuhan bersahutan "Wuhan jiayou atau "Tetap Kuat Wuhan atau "Terus bergerak Wuhan'.

    Suara teriakan tidak hanya terdengar lewat jendela rumah warga, tapi juga engarli ke media sosial di Cina seperti Weibo, WeChatt.

    Tak berhenti di teriakan saling memberi dukungan, warga Wuhan bahu membahu menyediakan makanan kepada para medis yang bertaruh nyawa menyelamatkan ribuan nyawa yang terinfeksi virus mematikan itu.

    Seperti Li Bo, 36t tahun, baru saja membuka restoran pada Desember lalu. Dan dalam sebulan kemudian dia harus kehilangan bisnisnya karena wabah virus Corona di Wuhan. Awalnya panik karena tidah tahu bagaimana mengembalikan pinjaman.

    Namun ketika menyaksikan berita tentang bagaimana paramedis rumah sakit bertarung, hati Li Bo tergerak membatu.

    "Saya mau melakukan bagian saya, tidak peduli betapa tidak berartinya itu," kata Li Bo sebagaimana dilaporkan BBC.

    Dia bersama koki restoran setiap hari berbelanja dan memasak makanan untuk sekitar 200 kotakuntuk diberikan kepada paramedis.

    Ada seorang warga desa di Changde, bersebelahan dengan Hubei, memberikan 15 ribu masker seharga 20 ribu yuan. Masker sebanyak itu sebenarnya sebagai kompensasi dari gaji yang tidak dapat dibayar perusahaan tempat dia bekerja dan kemudian mem-PHK dirinya.

    Awalnya, masker sebanyak itu dia bawa pulang, namun belakangan dia menyerahkan sebagian masker ke tetangganya dan kemudian mendonasikan seluruhnya ke penduduk Cina yang membutuhkan.

    Tersentuh dengan bahasa virus Corona yang semakin meluas di Cina, dua perusahaan pemetaan data, QuantUrban dan mini program WeChat membuat platform yang dapat memuat informasi resmi tempat-tempat terinfeksi virus. Program itu memetakan tempat terjangkit virus Corona secara geografis.

    Aplikasi yang dapat diunduh di WeChat dengan nama YiKuang atau Situasi Epidemi, mencakup pemetaan wilayah selatan Cina seperti kota Shenzehen dan Guangzhou. Adapun situs berbasis peramban milik QuantUrban meliputi sembilan kota lainnya.

    Dengan bantuan platform ini, penggunanya dapat mengetahui seberapa dekat mereka dengan area terinfeksi virus, sehingga terhindar dari tertular virus mematikan itu.

    "Shenzhen memungkinkan terkena dampak virus paling besar dan data pemerintahan sangat lamban. Aplikasi seperti ini membuat tenang. Anda dapat menghindari wilayah yang sudah terinfeksi oleh virus," kata April, warga Shenzhen yang tak ingin disebut nama lengkapnya.

    Yikuang juga mengandalkan relawan untuk tetap aktual dan mengganti lambang tengkorak dan tulang menjadi tanda seru untuk lokasi yang telah dikonfirmasi terjangkit virus Corona.

    Bantuan unik diberikan seorang perempuan yang menyebut namanya Linda, asal dari Wuhan namun tinggal di utara Cina. Dia sadar kemerdekaan pers dan kebebasan informasi adalah satu kebutuhan yang sulit dipenuhi oleh warga Cina, ketika pemerintah mendominasi semua informasi dan menyensornya .

    Situs www.technologyreview.com yang didirikan komunitas kampus MIT, membagikan cerita perjuangan Linda memverifikasi semua informasi yang didapatnya dari pemerintah dan media asing untuk dikumpulkan, diterjemahkan, dan diarsip untuk dibagikan ke masyarakat.

    Linda memulai kerjanya itu pada awal Januari dengan membagikan informasi kepada keluarganya, sehingga dengan informasi yang dia bagikan keluarganya menjadi sangat tenang menghadapi situasi wabah virus Corona.

    Linda juga memilah-milah informasi yang didapat dengan hati-hati terutama kritikan-kritikan terhadap pemerintah dan kisah orang-orang yang terkena virus. Dia mengarsipnya dan hanya memberikannya kepada mereka yang meminta bantuannya, kebanyakan para pasien dan paramedis.

    Linda menghabiskan beberapa jam dari waktunya setiap hari untuk mengumpulkan informasi secara sistematis, baik rilis resmi maupun data pribadi mengenai virus Corona di media sosial seperti Weibo, WeChat, dan Douban. Dia kemudian menterjemahkannya ke bahasa Inggris dan mengunggahnya ke Imgur, Reddit, Twitter, dan YouTube.

    Andy Tang, 17 tahun, tinggal di Hong Kong, membuat grup Whatsapp yang diberi nama GloNews Room atau global news room untuk membagikan informasi seputar virus Corona. Dia memilih menggunakan Whatsapp karena anggota grup dengan mudah menerima notifikasi tentang pembaruan informasi untuk kemudian diverifikasi.

    Di Singapura, sekumpulan relawan The National Volunteer and Philantropy Centre berinisiatif mengumpulkan dana atau donasi untuk membantu korban virus Corona. Mereka membuat platform diberi nama Giving.sg yang didukung 500 organisasi.

    Hingga 2 Maret 2020, sudah lebih dari 2,2 juta dollar Singapura dana terkumpul dan seribu relawan mendaftar di platform ini.

    Selain itu, O'Joy Care Service membagikan botol berisikan cairan pencuci tangan kepada para lansia di Singapura untuk mencegah mereka terjangkit virus Corona.

    Satu organisasi lainnya,Sayang Sayang Fund yang didirikan oleh Community Foundation Singapore juga menggalang dana untuk dibagikan bagi petugas kesehatan di Giving.sg. Hanya dalam 3 minggu dana terkumpul hampir 200 ribu dollar Singapura dan dipakai untuk keselamatan dan transportasi petugas kesehatan di Giving.sg.

    Di Korea Selatan, beberapa aplikasi untuk menjejaki wabah virus Corona telah membantu banyak orang. Bahkan menurut laporan Business Insider, 2 Maret 2020, aplikasi di Google Play Store ini terbanyak diunduh sejak pekan lalu.

    Aplikasi diberi nama 100m diluncurkan 11 Februari lalu, dan menurut CNN Business telah diunggah leih dari 1 juta kali. Aplikasi ini mengumpulkan data dari pejabat publik termasuk dari Pusat Pengawasan Penyakit Korea untuk menunjukkan data pasien yang didiagnosa terinfeksi virus Corona lengkap dengan data pribadi seperti kewarganegaraannya, usia, jenis kelamin, dan tempat mereka berkunjung.

    Siapa saja yang menggunakan aplikasi ini dalam jarak 100 meter, di mana tempat itu ada orang terjangkit virus, maka akan muncul notifikasi atau pemberitahuan untuk waspada.

    Menurut pembuat aplikasi ini, Bae Won-Seok, sekitar 20 ribu unduhan setiap jam terjadi. Sehingga server sempat terganggu karena begitu banyak yang mengunduhnya.

    Selain aplikasi 100m, warga Korea juga mengembangkan Corona Map yang juga membuat jejak lokasi orang-orang yang diketahui mengidap virus Corona. Aplikasi ini terbanyak kedua yang diunduh di Korea.

    Dengan menggunakan dua aplikasi ini, orang-orang terhindar dari area yang terkena wabah virus Corona di Korea Selatan. Sebuah kepedulian terhadap sesama di tengah serangan wabah virus yang paling cepat menular dan paling luas cakupannya di dunia dibandingkan wabah SARS.

    BUSINESS INSIDER | BBC| THE NEW YORK TIMES | TECHNOLOGYREVIEW.COM |


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.