Intimidasi Wartawan di Munajat 212, Polisi Didesak Tangkap Pelaku

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa peserta aksi malam munajat 212 melakukan shalat magrib berjamaah di Lapangan Monas, Jakarta,  Kamis 21 Februari 2019. Acara tersebut dihadiri ribuan massa yang hadir dari berbagai daerah khususnya jabodetabek. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Massa peserta aksi malam munajat 212 melakukan shalat magrib berjamaah di Lapangan Monas, Jakarta, Kamis 21 Februari 2019. Acara tersebut dihadiri ribuan massa yang hadir dari berbagai daerah khususnya jabodetabek. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Asnil Bambani Amri menyayangkan terjadinya kekerasan terhadap jurnalis yang meliput acara Munajat 212. Ia pun meminta aparat kepolisian menangkap para pelaku sampai mereka mendapat hukuman agar ada efek jera.

    "Sehingga kasus serupa tak terulang di masa mendatang," kata Asnil pada Jumat, 22 Februari 2019.

    Baca: Panitia Munajat 212 Mengaku Tak Ada Laporan Penganiayaan Wartawan

    Asnil mengingatkan bahwa dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum seperti tercantum dalam Pasal 8 Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kerja-kerja jurnalistik itu meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan kepada publik. Selain itu, mereka bisa dijerat pasal pidana yang merujuk pada KUHP, serta Pasal 18 UU Pers, dengan ancaman dua tahun penjara atau denda Rp 500 juta.

    Salah satu jurnalis yang mengalami persekusi adalah Satria Kusuma, jurnalis video 20detik.com. Didampingi perwakilan redaksi, ia telah melaporkan perundungan yang dialaminya ke Kepolisian Resor Jakarta Pusat.

    Satria sebelumnya melaporkan insiden yang menimpanya sesaat setelah menerima perundungan. Laporan itu tertuang dalam surat bernomor 358/K/II/2019/RESTRO JAKPUS. Dalam laporan itu, Satria memperkarakan orang yang bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang atau barang. Adapun pasal yang dikenakan adalah Pasal 170 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

    Massa Peserta aksi malam munajat 212 melakukan sholawat dan dzikir bersama di Lapangan Monas, Jakarta, Kamis 21 Februari 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Kejadian yang menimpa Satria bermula dari kericuhan yang terjadi akibat adanya copet di gelaran Munajat 212. Satria yang tengah mengabadikan momen kericuhan copet di dekat pintu keluar VIP, arah bundaran patung Arjuna Wiwaha, langsung kekerumuni massa.

    Dari keterangan yang disampaikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, oleh pihak yang diduga bagian dari Laskar Pembela Islam (LPI), Satria mengalami perundungan, dipiting, dipukul dan diminta berjongkok. Kekerasan yang dialami Satria diantaranya terjadi di dalam tenda VIP.

    Polisi pun menyatakan telah memeriksa jurnalis video kanal 20detik.com itu. Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Harry Kurniawan mengatakan pemeriksaan itu dilakukan pada Jumat petang. "Sudah diriksa semalam oleh Satreskrim (Satuan Reserse Kriminal)," kata Harry saat dihubungi Tempo pada Sabtu, 23 Februari 2019.

    Baca: Intimidasi Wartawan di Munajat 212, Ini Kejadian Selengkapnya

    Harry mengatakan polisi masih mengolah hasil pemeriksaan tersebut. Saat ini, ia belum dapat menggamblangkan hasil temuan penyidik atas pemeriksaan terhadap Satria.

    Pemimpin Redaksi Detik.com, Alfito Deannova, mengatakan wartawannya dalam kondisi baik kala memberikan keterangan kepada polisi. "Dia didampingi oleh pengacara dan perwakilan redaksi," kata dia melalui pesan pendek.

    Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, Alfito meminta Satria untuk lebih dulu beristirahat. Ia pun memastikan upaya hukum akan terus mereka tempuh.

    Selain Satria, jurnalis Kompas.com Nibras Nada Nailufar sempat mengalami perundungan. Telepon genggamnya direbut oleh massa. "Mereka maksa minta saya tidak merekam," kata dia.

    Ia pun sempat dihadang saat akan menuju tenda polisi untuk meliput copet yang ditangkap. "Belum sampai ke tenda polisi tiba-tiba saya dihadang sama massa," kata Nibras.

    Baca: Panitia Menyayangkan Persekusi Terhadap Jurnalis di Munajat 212

    Pada saat dihadang massa, Nibras mengaku ingin pulang. Perempuan 25 tahun itu justru dikerumuni sejumlah pemuda berseragam putih. Dia sempat didorong-dorong. Mereka meminta Nibras memperlihatkan ponselnya serta menghapus foto-foto di dalamnya. "Saya tidak memfoto mereka menyeret maling," ujarnya. Ia juga sempat diikuti hingga halte Transjakarta saat ia akan pulang.

    Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212, yang juga anggota FPI, Slamet Maarif, dalam keterangan tertulisnya berkilah tak memberi instruksi untuk menggencarkan upaya kekerasan terhadap jurnalis. Ia mengatakan kekerasan yang dilakukan sejumlah laskar terhadap jurnalis kanal video 20Detik.com, Satria, adalah peristiwa insidental.

    Ia malah menuding ada pihak yang sengaja menggoreng isu di luar konteks aksi Munajat 212. Ihwal proses hukum yang yang ditempuh pihak Detik.com, Maarif mengatakan FPI akan turut menjalankannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.