Mau Tahu Hasil Survei yang Kredibel? Ini Kiatnya Versi Persepi

Reporter

Pengamat psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk. TEMPO/Rezki

TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang pemilihan presiden 2019, lembaga-lembaga sigi mengeluarkan hasil survei mengenai elektabilitas dua pasangan calon presiden, Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno. Hasil sigi antar lembaga survei mengenai elektabilitas itu umumnya berbeda, namun tak terpaut jauh. Perbedaan angka elektabilitas kerap menuai kontroversi bahkan dicurigai ada kedekatan dengan salah satu kubu calon presiden.

Sigi lembaga survei Indomatrik, misalnya, menyatakan elektabilitas pasangan Joko Widodo - Ma’ruf Amin dengan Prabowo – Sandiaga hanya terpaut sekitar 4 persen. Hasil ini menuai kontroversi karena dalam hasil lembaga survei lainnya, rata-rata selisih angka elektabilitas Jokowi dan Prabowo sebesar 20 persen dengan keunggulan Jokowi.

Selain hasil yang berbeda, Direktur Eksekutif Indomatrik, Husin Yazid juga menjadi sorotan. Husin diketahui pernah menjadi Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis).

Baca: Indomatrik Bantah Dibiayai BPN Prabowo - Sandi untuk Survei

Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) menyatakan lembaga itu pernah melakukan kesalahan fatal pada hitung cepat pemilihan presiden 2014. “Publik perlu tahu, fatal betul yang 2014 itu,” kata Anggota Dewan Etik Persepi Hamdi Muluk kepada Tempo, Sabtu, 16 Februari 2019.

Hamdi menuturkan pada pilpres 2014, banyak lembaga survei anggota Persepi melakukan hitung cepat. Namun, ada dua lembaga yang hasilnya berbeda yakni Puskaptis dan Jaringan Suara Indonesia. Puskaptis dan JSI menyatakan pasangan Prabowo Subianto - Hatta Radjasa mendapatkan suara lebih banyak ketimbang Joko Widodo - Jusuf Kalla. Sedangkan mayoritas lembaga survei lainnya menyatakan Jokowi - Jusuf Kalla unggul.

Persepi kemudian berinisiatif mengaudit perbedaan hasil hitung cepat itu. “Supaya soalnya menjadi jelas.” Hamdi mengatakan saat itu Persepi meminta seluruh anggotanya mempertanggungjawabkan hasil hitung cepat di depan dewan etik. Dewan etik menguliti mulai dari metode sampling, hingga pengumpulan data. Hamdi mengatakan hampir semua lembaga survei datang. Hanya JSI dan Puskaptif yang emoh diaudit.

Hamdi Muluk berbagi kepada Tempo tentang cara untuk memahami hasil survei yang kredibel dan dapat dipercaya. Berikut lima cara memahami lembaga survei kredibel versi Persepi:

  1. Institusi kredibel

Lihat apakah institusi di belakangnya juga merupakan institusi yang kredibel. Hal ini dapat dijadikan patokan karena institusi besar yang kredibel, tidak akan merusak reputasi mereka dengan merilis hasil survei yang menyesatkan.

"Jelas sebuah lembaga yang besar tidak mungkin melakukan perbuatan tercela," ujar Hamdi kepada Tempo, Ahad, 17 Februari 2019. Perbuatan tercela itu seperti menyesatkan informasi, mengaburkan fakta, mengaburkan opini, menerima order-orderan politik murahan. “Itu taruhan dari sebuah lembaga besar yang kredibel.”

  1. Kompetensi peneliti

Institusi kredibel juga akan memperhatikan kompetensi para penelitinya. Setidaknya para peneliti akan diseleksi baik dari segi keilmuan, kompetensi, dan lulusan institusi mana. Hamdi percaya orang dengan almamater institusi besar tidak akan menyalahgunakan ilmunya. "Dokter dari Harvard misalnya, apa dia akan menyalahgunakan ilmunya? Ini juga jadi patokan bagi saya."

Baca: Lembaga Survei Indomatrik Bukan Anggota Persepi

  1. Tergabung dalam asosiasi

Seperti halnya dokter, advokat, atau jurnalis, lembaga survei, menurut Hamdi perlu tergabung dalam sebuah asosiasi. Tujuannya adalah agar ada fungsi kontrol dari asosiasi agar lembaga itu tetap kredibel di mata masyarakat. Selain itu juga ada fungsi kontrol diri sendiri dari kekeliruan.

Hamdi mengakui lembaga survei hingga saat ini belum diatur dalam undang-undang. Tetapi ia menekankan tetap perlu ada kesadaran di antara komunitas penyelenggara survei itu berhimpun. Untuk itu pula dibentuk dewan etik karena asosiasi yang berhak untuk mengaudit lembaga survei yang menjadi anggotanya. "Tetapi kalau tidak tergabung dalam persatuan, itu tidak ada kewajiban kami audit."

  1. Telusuri Reputasi

Masyarakat perlu kritis dan aktif menelusuri reputasi dan rekam jejak lembaga survei. Reputasi ini penting, untuk melihat apakah semua produk-produknya sesuai dengan kaidah akademik, sehingga layak dipercaya.

  1. Metodologi

Cek metode yang digunakan. Lembaga survei, ujar Hamdi, harus jujur terhadap metode yang digunakan. Berapa sampel yang diambil, bagaimana prosedur pengambilan sampel, dan berapa margin error yang bisa ditoleransi.

Simak: Husin Yazid Sebut Puskaptis dan Indomatrik Lembaga yang Berbeda

Hamdi mengimbau masyarakat agar tidak terkecoh dengan jumlah sampel besar. Ia mengatakan para ilmuwan sudah menetapkan 1.200 merupakan sampel yang sudah mumpuni dalam sebuah penelitian jajak pendapat. Lebih dari itu, kata dia, hanya akan berefek pada penurunan jumlah margin of error, itu pun tidak signifikan.

Metode pengambilan sampel adalah hal penting. Pengambilan sampel harus dilakukan secara random atau acak. Apabila pengambilannya bias, atau dalam konteks pemilu, sampel diambil dari basis pemilih paslon tertentu tentu hasilnya pun akan bias.

  1. Cek Hasil Lembaga Survei lain

Penting membandingkan hasil survei satu lembaga, dengan lembaga lainnya. Bila ada beberapa lembaga survei dengan kredibilitas baik telah menyatakan hasilnya dan tidak jauh berbeda. Kemudian muncul satu, dua lembaga dengan hasil yang sangat kontras, menjadi wajar bila lembaga 'nyeleneh' ini dikritisi.

"Kalau ada empat sampai enam lembaga yang sudah punya rekam jejak bagus mengatakan hasilnya begini, lalu tiba-tiba satu lembaga hasilnya nyeleneh, setelah kita telusuri rekam jejaknya, siapa orang di belakangnya, dan hasilnya tidak jelas, wajar dong dikritisi dengan keras," ujar Hamdi.

FIKRI ARIGI | M. ROSSENO AJI






Calon Gubernur DKI 2024, Survei: Risma Kalahkan Anies Baswedan, Ada Gibran dan Grace Natalie

2 jam lalu

Calon Gubernur DKI 2024, Survei: Risma Kalahkan Anies Baswedan, Ada Gibran dan Grace Natalie

NSN mengungkapkan, mantan Ketua Umum PSI Grace Natalie masuk bursa Calon Gubernur DKI Jakarta untuk Pemilihan Gubernur 2024.


Survei: Elektabilitas PDIP Tertinggi di Jakarta, Disusul PSI dan Gerindra

3 jam lalu

Survei: Elektabilitas PDIP Tertinggi di Jakarta, Disusul PSI dan Gerindra

NSN melansir hasil surveinya yang menempatkan PDIP dan PSI menduduki peringkat teratas elektabilitas di DKI Jakarta.


Survei Charta Politika: Ganjar Teratas dengan 31,3 Persen, Disusul Prabowo dan Anies

2 hari lalu

Survei Charta Politika: Ganjar Teratas dengan 31,3 Persen, Disusul Prabowo dan Anies

Ganjar Pranowo meraih elektabilitas tertinggi dalam survei terbaru Charta Politika Survei Indonesia meski dilakukan dalam beberapa simulasi


Prabowo Kalah dari Anies di Survei ILC, Fadli Zon: Masih Terlalu Pagi Melihat Survei

2 hari lalu

Prabowo Kalah dari Anies di Survei ILC, Fadli Zon: Masih Terlalu Pagi Melihat Survei

Fadli Zon mengatakan masih terlalu dini melihat survei Pemilu 2024 setelah Prabowo Subianto kalah dari Anies Baswedan dalam survei yang dilakukan Indonesia Lawyers Club (ILC).


Ahli Politik Prediksi Elektabilitas Anies Turun setelah Lengser dari Gubernur DKI Jakarta

4 hari lalu

Ahli Politik Prediksi Elektabilitas Anies Turun setelah Lengser dari Gubernur DKI Jakarta

Peneliti LIPI Wasisto Rahardjo berkomentar elektabilitas Anies Baswedan dan potensinya dalam pilpres.


Burhanuddin Nilai Jokowi Cerdik, Naikkan Harga BBM saat Tingkat Kepuasan 72,3 Persen

6 hari lalu

Burhanuddin Nilai Jokowi Cerdik, Naikkan Harga BBM saat Tingkat Kepuasan 72,3 Persen

Lembaga survei Indikator menilai Jokowi pintar mengambil kebijakan yang tidak populer namun tingkat kepuasannya anjlok sampai 10 persen.


Popularitas Pemimpin Perempuan Melonjak, Begini Elektabilitas Puan Maharani

14 hari lalu

Popularitas Pemimpin Perempuan Melonjak, Begini Elektabilitas Puan Maharani

PDI Perjuangan disebut akan mencalonkan Puan Maharani pada Pilpres 2024. KedaiKOPI melakukan riset opini publik tentang pemimpin perempuan.


Survei Capres KedaiKOPI: Ganjar Ungguli Prabowo, Anies hingga Puan

15 hari lalu

Survei Capres KedaiKOPI: Ganjar Ungguli Prabowo, Anies hingga Puan

Ganjar Pranowo unggul dari empat nama Capres lainnya yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Puan Maharani.


Perbedaan Elektabilitas dan Popularitas dalam Politik

15 hari lalu

Perbedaan Elektabilitas dan Popularitas dalam Politik

Menjelang tahun politik pemilihan umum atau Pemilu 2024, partai dan tokoh sudah ancang-ancang meningkatkan elektabilitas dan popularitas


Tujuan Safari Politik, Apakah hanya Mengerek Elektabilitas?

16 hari lalu

Tujuan Safari Politik, Apakah hanya Mengerek Elektabilitas?

Menjelang 2024, tokoh maupun partai mulai safari politik