Jakarta Banjir, Proyek Infrastruktur Dituding Jadi Biang Keladi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banjir dikawasan Cawang, Jakarta. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Banjir dikawasan Cawang, Jakarta. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah proyek infrastruktur di DKI Jakarta dituding sebagai penyebab banjir di beberapa ruas jalan di Ibu Kota.  Tiga proyek yang ditengarai biang banjir itu adalah proyek kereta ringan atau light rail transit (LRT), mass rapid transit (MRT), serta proyek jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu).

    Baca: Anies Turun Tangan, Periksa Ulang Proyek Penyebab Banjir

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah memerintahkan Dinas Sumber Daya Air untuk memeriksa para kontraktor yang diduga tidak memperhatikan dampak lingkungan di sekitar proyek mereka.  

    "Semua proyek itu ketentuannya tidak boleh menghambat saluran air," kata Anies di kantornya, Kamis 31 Januari 2019.

    Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah kontraktor telah bekerja sesuai dengan standar operasional prosedur. Kontraktor antara lain harus memperhatikan keamanan proyek serta menjamin saluran air di sekitar proyek tidak tersumbat agar tidak menyebabkan banjir.

    Menurut Anies, ada sejumlah proyek yang menutupi saluran air. Salah satunya di terowongan (underpass) Cawang, Jakarta Timur. Di sana, pembatas jalan yang dipasang kontraktor menutup drainase dan menyebabkan banjir.

    Banjir setinggi 30 cm di kawasan jalan D.I Panjaitan, Jakarta Timur, 28 Maret 2017. Genangan di sejumlah kawasan mengakibatkan kemacetan. TMC Polda Metro

    Air baru mengalir setelah kontraktor memindahkan pembatas jalan tersebut. "Jadi yang seperti itu nanti harus diperiksa lagi," ujarnya.

    Anies mengatakan saluran air tidak boleh terhalang oleh bahan-bahan bangunan proyek. Sebab, hal itu akan menyebabkan pendangkalan, kerusakan saluran air, bahkan banjir. Meski menyatakan akan memeriksa kontraktor proyek infrastruktur pemicu banjir, Anies tak menyebutkan persis sanksi bagi mereka yang melanggar.

    Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Teguh Hendrawan mengidentifikasi belasan titik proyek yang rawan terjadi genangan. Di antaranya lokasi di sekitar proyek LRT di Pancoran dan Kelapa Gading, proyek MRT di Fatmawati dan Tol Becakayu di Jalan DI Pandjaitan. "Nanti akan kami sampaikan ini supaya jadi perhatian mereka," ucapnya.

    Dalam sepekan terakhir, banjir  merendam sejumlah ruas jalan di Ibu Kota ketika hujan mengguyur. Banjir terjadi di Jalan M.T. Haryono segmen Pancoran, Jakarta Selatan, dan Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di dua kawasan ini, banjir diduga terjadi akibat proyek pembangunan jalur LRT.

    “Drainase tersumbat hingga tinggal 3 sentimeter dari normalnya 5 sentimeter," kata  Teguh.

    Ketika hujan deras, banjir juga menggenangi Jalan D.I. Panjaitan, Jakarta Timur, yang berdekatan dengan proyek jalan tol Becakayu. Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan juga kerap tergenang di sekitar lokasi pembangunan jaringan MRT.

    Suasana pembangunan proyek LRT saat pemerintah menginstruksikan pemberhentian sementara proyek infrastruktur layang, di Jalan Rasuna Said, Jakarta, 21 Februari 2018. TEMPO/Amston Probel

    Menurut Teguh, sebagian kontraktor kerap mengabaikan pentingnya menjaga saluran air dan sistem drainase. Padahal saluran air yang tersumbat berpotensi menyebabkan banjir ketika hujan deras. Apalagi curah hujan di DKI diperkirakan meningkat tajam hingga dua bulan ke depan.

    Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaludin, mengatakan perusahaannya telah memperbaiki sistem drainase di sekitar lokasi proyek MRT setahun lalu. Meski begitu, dia mengatakan tetap menerima saran dari pemerintah DKI.

    "Selama ini, genangan yang terjadi juga sudah lebih cepat surut," ujarnya, Senin lalu.

    Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar meminta pemerintah DKI segera menyampaikan titik mana saja yang kerap terjadi genangan akibat proyek infrastruktur. Dengan begitu, kontraktor bisa segera menanganinya. "Lebih baik tunjukkan infrastruktur yang mana yang kurang perhatikan drainase," ucapnya.

    Direktur Proyek LRT Jakarta Propertindo Iwan Takwin membantah perusahaannya mengabaikan sistem drainase di sekitar proyek. Menurut dia, proyek LRT bukan satu-satunya penyebab ruas jalan di Kelapa Gading rawan genangan saat diguyur hujan.

    Sebelum proyek LRT dimulai, kawasan Kelapa Gading sudah sering banjir. Meski begitu, Iwan menambahkan, drainase di sekitar area stasiun LRT tengah diperbaiki sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan. "Masih berjalan," tuturnya.

    Memasuki musim hujan seperti sekarang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berusaha mengurangi titik genangan dan banjir yang berpotensi melumpuhkan Ibu Kota. Dinas Perhubungan mencatat ada 305 titik Ibu Kota rawan genangan dan banjir.

    Pelaksana tugas Dishub DKI Sigit Wijatmoko mengatakan, 30 titik di antaranya menjadi lokasi genangan dan banjir setiap tahun. Titik genangan dan banjir itu tersebar di lima wilayah Jakarta.

    Misalnya di Jakarta Utara, Dishub DKI fokus di kawasan Kelapa Gading dan Tanjung Priok. Sementara di timur ada Cipinang Melayu dan Kampung Melayu. Cipinang Melayu, kata Sigit, merupakan jalur utama Jakarta ke Bekasi.

    Baca : Masuk Musim Hujan, Anies: Meskipun Tak Hujan Jakarta Potensi Banjir

    Di Jakarta Selatan, titik genangan dan banjir biasa ditemukan di Kemang dan Jalan Bangka. Sedangkan di Jakarta Pusat, genangan kerap terjadi di Jalan Abdul Muis bila hujan mengguyur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.