Optimisme Kinerja Pasar Modal 2019 di Tengah Gejolak Global

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo  didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (kiri) dan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi melakukan seremoni penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2018 di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat 28 Desember 2018. Perdagangan IHSG 2018 resmi ditutup dengan menguat sebesar 0,06 persen atau 3,86 poin ke level 6.194,50. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Presiden Joko Widodo didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (kiri) dan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi melakukan seremoni penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2018 di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat 28 Desember 2018. Perdagangan IHSG 2018 resmi ditutup dengan menguat sebesar 0,06 persen atau 3,86 poin ke level 6.194,50. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis kinerja pasar modal pada 2019 bakal lebih baik ketimbang tahun lalu.

    Baca juga: IHSG 2018 Ditutup Menguat, Jokowi: Kinerja BEI Terasa Positifnya

    "Bukan hanya sekadar untuk optimistis bahwa tahun 2019 kita bisa melakukan lebih baik lagi, karena kita sudah menunjukkan mampu mencetak kinerja yang baik," ujar Darmin di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 2 Januari 2018.

    Menurut Darmin, sepanjang 2018, kinerja pasar modal terlihat cukup baik. Kendati perekonomian, perdagangan, dan keuangan global mengalami gonjang ganjing. Bahkan, bekas Gubernur Bank Indonesia itu mengatakan pasar modal Indonesia menempati posisi kedua terbaik di Asia - Pasifik di antara berbagai negara emerging yang relatif banyak terpengaruh banyak gejolak perekonomian, perdagangan, dan keuangan global.

    "Tapi itu tidak termasuk negara-negara yang sudah mapan dan tidak terlalu terpengaruh dengan gejolak ekonomi global," kata Darmin. Saat penutupan perdagangan 28 Desember 2018, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat di level 6.194,5 atau naik 0,06 persen dari saat pembukaan.

    Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki daya tahan atas gejolak yang terjadi di perekonomian global.

    Daya tahan itu, ujar Darmin, juga ditunjukkan bukan hanya di pasar modal, melainkan juga di sektor riil. "Di sektor riil juga kita bertahan cukup baik di tengah gejolak ekonomi dunia, dan itu modal untuk tetap optimistis."

    Selanjutnya, di tengah situasi yang penuh tekanan, Darmin mengingatkan kasus di pasar modal biasanya akan semakin banyak. Kasus itu misalnya adalah wanprestasi dari pelaku pasar modal maupun kasus lainnya. 

    Menurut dia, kasus menjadi semakin banyak lantaran situasi perekonomian, perdagangan, dan keuangan naik turun dengan sangat cepat. Dengan fluktuasi yang cepat itu, ada pelaku pasar yang bisa menyesuaikan diri, namun ada pula yang tidak bisa menjawab persoalan itu dengan tepat waktu. "Padahal menjaga integritas adalah salah satu yang sangat penting di pasar modal," kata Darmin.

    Karena itu, Darmin berpesan agar pada 2019 ini pasar modal bisa semakin memperbaiki penegakan aturan, sehingga bisa mewujudkan integritas pasar modal. "Kalau tidak, orang tidak akan terlalu percaya," kata dia. Meskipun, bila melihat tren tahun lalu, jumlah emiten yang melakukan go public sudah semakin banyak dan persentase kenaikannya semakin tinggi. "Artinya integritas sudah baik, yang penting dijaga jangan turun."

    Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi menargetkan perusahaan yang melantai di pasar modal pada 2019 bisa lebih dari 57 perusahaan. Angka tersebut adalah capaian BEI pada tahun 2018.

    "Jadi harapannya tahun ini bisa lebih dari itu, belum bisa bilang berapa tepatnya, tapi arahnya lebih dari itu," ujar Inarno di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

    Optimisme Inarno bukan tanpa alasan. Ia melihat potensi untuk perusahaan melantai di bursa efek masih besar pada 2019. Apalagi, pada tahun lalu BEI mencatat rekor anyar sejak 1992 dengan jumlah perusahaan yang melakukan initial public offering sebesar 57 perusahaan. "Tahun lalu kita tertinggi sejak 1992, kami pikir tahun ini insyaAllah lebih dari itu."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gaji Gubernur dan Perbandingan Luas Jawa Tengah dengan Malaysia

    Dalam Debat Pilpres 2019 pertama pada 17 Januari 2019, Prabowo Subianto menyinggung besaran gaji gubernur dengan mengambil contoh Jawa Tengah.