Minggu, 18 November 2018

Tampang Boyolali; di Antara Dugaan Politisasi dan Gurauan Prabowo

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, disaksikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan (kiri), menyampaikan pidato saat mengunjungi Pondok Pesantren Darul Qur'an Salafiyah di Demakijo, Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah, Selasa, 30 Oktober 2018. Kunjungan tersebut sebagai ajang silaturahmi dengan umat Islam di Klaten. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, disaksikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan (kiri), menyampaikan pidato saat mengunjungi Pondok Pesantren Darul Qur'an Salafiyah di Demakijo, Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah, Selasa, 30 Oktober 2018. Kunjungan tersebut sebagai ajang silaturahmi dengan umat Islam di Klaten. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Potongan pidato Prabowo Subianto yang menyebut tampang Boyolali di hadapan pendukungnya viral di media sosial. Sejumlah pihak memprotes ucapan tersebut yang dianggap merendahkan masyarakat Boyolali. Sebaliknya, kubu Prabowo menilai ucapan ketua umum Gerindra itu dipolitisasi dan dijadikan alat untuk menyerang di kontestasi pemilihan presiden 2019.

    Baca: Tim Prabowo Protes Orasi Bupati di Aksi Save Tampang Boyolali

    Penilaian bahwa ucapan Prabowo merendahkan masyarakat Boyolali dibantah kubu Prabowo. Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo - Sandiaga, Ahmad MUzani, mengatakan dirinya tidak menemukan di mana letak pelecehan dalam pidato Prabowo di Boyolali. Alih-alih merendahkan, menurut dia, itu merupakan ungakapan keakraban dari seorang orator, kepada audiensnya.

    "Saya sudah mendengarkan pidato pak Prabowo secara keseluruhan di Boyolali itu. Dari pidato itu saya tidak menangkap sedikit pun ucapan itu dimaksudkan untuk melecehkan orang Boyolali," ujar Muzani saat ditemui di kawasan Koja, Jakarta Utara, Ahad 4 November 2018.

    Menurut Muzani, konteks dari ucapan Prabowo dengan menyebut 'tampang Boyolali' itu adalah kondisi gedung-gedung tinggi, seperti hotel di Jakarta, yang menurutnya asing dengan masyarakat di sekitarnya. Prabowo, lanjut Muzani, mengekspresikan itu dengan menyebut 'tampang Boyolali'. Hal itu menurutnya menjadi simbol keakraban, bukan melecehkan. "Dalam ilmu orasi itu biasa, seperti itu," kata dia.

    Demo Tampang Boyolali. Diambil dari cuplikan video Youtube.com/@Diezpung Chanel

    Ucapan Prabowo itu diungkapkan saat dia meresmikan Kantor Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga di Boyolali, Ahad 30 Oktober 2018. Saat itu Prabowo sedang berbicara tentang kemiskinan sebelum mengucapkan soal tampang Boyolali. Prabowo menyebut tiga nama hotel bintang lima di Ibu Kota. Setelah itu, ia mengatakan bahwa ejaannya sulit hingga masyarakat saja tak mampu mengucapkannya. Prabowo lantas berseloroh bila audiensnya saat itu masuk hotel mewah, mereka akan diusir.

    Baca: Paguyuban Batalkan Jumpa Pers soal Tampang Boyolali di Hotel

    "Karena tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang kalian, ya, tampang Boyolali ini. Betul?" tanya Prabowo. Peserta kampanye terdengar tertawa. Namun, lontaran kalimat ini menjadi kontroversi setelah viral di media sosial.

    Politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade, mengatakan kalimat Prabowo bukan masalah bila tak ada yang memantik isu negatif. Menurut dia, video Prabowo menjadi ramai karena ada pihak yang sengaja memanas-manasi. "Video di Boyolali Pak Prabowo itu digoreng oleh orang PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Penggorengnya namamya Tsamara," kata Andre pada Jumat malam, 2 November 2018. Andre menilai, Tsamara Amany yang menjabat sebagai Ketua DPP PSI, sengaja menggiring isu tentang ujaran capres nomor urut 02 itu sebagai bentuk penyerangan.

    Forum Boyolali Bermartabat melakukan aksi damai Save Tampang Boyolali di Boyolali, Jawa Tengah, 4 November 2018. Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan atas pidato Calon Presiden nomer urut 02 Prabowo Subianto yang dinilai meresahkan warga Boyolali. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni menampik tudingan itu. Bagi dia, Prabowo tidak seharusnya mengujarkan guyonan semacam itu. "Pemimpin tidak menjadikan rakyat sebagai candaan," ujar Juli kepada Tempo melalui pesan pendek pada Jumat, 2 November 2018.

    Baca: Ribuan Orang Protes Candaan Prabowo Soal Tampang Boyolali

    Viral di media sosial, ucapan Prabowo pun disikapi dengan aksi protes. Ribuan orang yang tergabung dalam Forum Boyolali Bermartabat melakukan aksi turun ke jalan-jalan di Boyolali pada Ahad, 4 November 2018. Bupati Boyolali Seno Samodro, yang merupakan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, menjadi salah satu orang yang bersuara keras soal ucapan Prabowo. Dia menyerukan kepada warga Boyolali untuk tak memilih Prabowo di Pilpres 2019.

    Di luar soal tampang Boyolali, ucapan Prabowo sebelumnya juga pernah menyinggung soal gaji wartawan yang dianggapnya kecil. "Kami juga bela wartawan. Gaji kalian juga kecil kan?" tanya Prabowo kepada wartawan pada di Universitas Bung Karno pada Kamis, 17 Agustus 2017. Namun pertanyaan itu sebenarnya tak sungguh-sungguh dilontarkan, karena ia menjawab sendiri pertanyaannya dengan gurauan. "Tahu (saya), kelihatan dari muka kalian," ujar Prabowo yang diikuti gelak tawa.

    Prabowo lalu mencoba meneruskan penjelasannya. Menurut Prabowo, setelah melihat wajah para wartawan, yang sebagian besar lusuh, membuatnya berpikir bahwa awak media tak pernah belanja di mall. "Betul kan? Hayo... jujur," kata Prabowo.

    FIKRI ARIGI | BUDIARTI UTAMI PUTRI | FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.