Skybridge Tanah Abang Diresmikan 15 Oktober, Buat PKL atau...

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan pedagang kaki lima (PKL) Tanah Abang menunggu undian kios skybridge Tanah Abang, Jumat, 12 Oktober 2018. Tempo/Imam Hamdi

    Ratusan pedagang kaki lima (PKL) Tanah Abang menunggu undian kios skybridge Tanah Abang, Jumat, 12 Oktober 2018. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, JakartaSkybridge Tanah Abang, yang menghubungkan Stasiun Tanah Abang dan Blok G akan mulai  beroperasi pada 15 Oktober 2018. Sedangkan jembatan yang menghubungkan stasiun dengan Jalan Jatibaru Bengkel diharapkan rampung akhir bulan ini.

    Baca: Anies Baswedan: Sky Bridge Tanah Abang Bakal Tampung 446 PKL  

    Direktur Utama PD Pembangunan Sarana Jaya Yoory C. Pinontoan menargetkan sekitar 100 pedagang kaki lima (PKL) dapat berjualan di kios jembatan itu pada hari pertama pembukaan skybridge. "Pedagang sudah sebagian masuk. Target kita 100," kata Yoory, Kamis, 11 Oktober 2018.

    Para pedagang akan menempati kios berukuran 1,5 x 2 meter Lapak PKL didirikan di sepanjang jalan stasiun ke Blok G. Sementara jalan yang bisa dilalui pejalan kaki ada di kanan kiri kios yang lebarnya masing-masing tiga meter.

    "Kiosnya berdiri di tengah-tengah," ujar Yoory.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, jembatan sepanjang 386,4 meter dan lebar 12,6 meter itu akan menampung 446 pedagang. Mereka merupakan pelapak yang saat ini menempati tenda-tenda di sepanjang Jalan Jatibaru Raya, Jakarta Pusat.

    Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Irwandi membuka pengundian kios untuk pedagang kaki lima (PKL) di skybridge Tanah Abang, 12 Oktober 2018. Tempo/Imam Hamdi

    Pemerintah DKI sedang mengatur mekanisme penempatan PKL di atas Skybridge Tanah Abang. Pengaturan, kata Anies, diperlukan agar jembatan layang itu tetap rapi dan tertib meski pedagang dan pejalan kaki berjubel di atasnya.

    Untuk mengatur PKL yang berjualan di atas jembatan penyeberangan multiguna itu, Pemprov DKI membaginya lewat pengundian. Kepala Suku Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Jakarta Pusat, Bangun Richard, mengatakan jumlah lapak di atas skybridge tak bisa menampung semua pedagang.

    Bangun menerangkan bahwa pemerintah DKI hanya menyediakan 446 lapak, PKL Jatibaru Raya saat ini berjumlah 650 orang. "Memang tak bisa semua pedagang tertampung di skybridge," ujar dia, Jumat 12 Oktober 2018.

    Pembangunan Skybridge di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, pada Jumat, 28 September 2018. Tempo/Adam Prireza

    Suku Dinas UMKM kemarin mengundi 54 lapak di atas skybridge. Ada 165 pedagang yang mengikuti undian tersebut. Sehari sebelumnya, menurut Bangun, 372 pedagang yang biasa berjualan di tenda di Jalan Jatibaru Raya telah mengikuti undian.

    Kepala Satuan Pelaksana Sudin Koperasi dan UMKM Jakarta Pusat, Deden Ahmad Suryana, mengatakan instansinya bakal melakukan undian terakhir pada hari ini. Ada 113 pedagang yang biasa berjualan di Jalan Jatibaru Bengkel yang akan ikut undian. “Cuma 20 orang yang akan terpilih dari 113 pedagang," ujar dia.

    Bagi pedagang yang tidak mendapatkan lapak di skybridge, menurut Bangun, pemerintah menyediakan tempat berjualan di blok F Pasar Tanah Abang.

    Mulyadi, pedagang di Jalan Jatibaru Raya, mempertanyakan sistem pengundian tersebut. Menurut dia, banyak orang yang bukan pedagang mendapatkan jatah undian.

    Sedangkan Mulyadi, yang sudah berjualan di Tanah Abang sejak 2006, justru tak mendapat kesempatan untuk ikut undian. “Saya kecewa tak bisa ikut undian,” ujar pedagang kardigan perempuan itu.

    Pedagang kaki lima (PKL) berjualan di bawah proyek Skybridge Tanah Abang di Jalan Jatbaru Raya, Jumat 12 Oktober 2018. Tempo/Imam Hamdi

    Lelaki 46 tahun ini mengakui baru berjualan di Jalan Jatibaru Raya dalam setahun terakhir. Awalnya, dia berdagang di Blok G Pasar Tanah Abang. “Karena sepi, saya pindah ke sini," katanya.

    Di Jatibaru Raya, Mulyadi menyewa tenda kepada seseorang. “Dia bukan pedagang kaki lima, tapi mendapat jatah tenda," ujar dia. Tiap bulan, Mulyadi membayar sewa Rp 2,3 juta kepada orang itu.

    Kios di atas Skybridge juga tak diberikan secara cuma-cuma kepada PKL. Pemerintah bakal memungut retribusi Rp 500 ribu per bulan kepada setiap pedagang yang menempati kios di Skybridge. Retribusi ini baru ditarik pada Januari 2019 oleh PT Sarana Wisesa sebagai lembaga pengelola skybridge Tanah Abang.

    Retribusi tersebut digunakan untuk membiayai sejumlah fasilitas, seperti kebersihan dan keamanan. Selain menempatkan petugas keamanan, pengelola juga memasang kamera pengintai (CCTV) di 13 titik Skybridge. Total ada 26 CCTV yang terpasang di jembatan tersebut.

    Baca juga: 165 PKL Berebut 54 Lapak di Skybridge Tanah Abang Hari Ini

    Skybridge ini dibangun Pemprov DKI untuk menampung PKL dari Jalan Jatibaru Raya setelah Ombudsman menegur Gubernur Anies Baswedan yang menutup jalan itu demi memindahkan PKL dari trotoar. Kebijakan Anies itu menuai protes dari sopir angkot yang tak bisa melintasi jalan tersebut serta kritik dari Polda Metro Jaya karena menambah kemacetan.  

    LANI DIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.