Rabu, 24 Oktober 2018

DPRD Tolak Tambahan Modal, PAM Jaya Tagih Mitra Swasta

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) operator penyediaan dan pelayanan air minum di wilayah Barat  DKI Jakarta, akan melakukan pekerjaan teknis di Instalasi Pengolahan Air (IPA)  2 Pejompongan, Jakarta Pusat. (dok Palyja)

    PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) operator penyediaan dan pelayanan air minum di wilayah Barat DKI Jakarta, akan melakukan pekerjaan teknis di Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Pejompongan, Jakarta Pusat. (dok Palyja)

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan Daerah Air Minum Jakarta Raya atau PAM Jaya meminta dua mitranya, PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Aetra Air Jakarta (Aetra), berinvestasi dalam sejumlah program perusahaan daerah itu. PAM Jaya menagih janji investasi swasta setelah DPRD DKI Jakarta menolak permohonan tambahan penyertaan modal yang mereka ajukan.

    Baca juga: Ketua DPRD Tolak Tambah Anggaran PAM Jaya karena Soal Asal Dirut

    Direktur Utama PAM Jaya Priyatno Bambang Hernowo menuturkan bahwa tambahan modal diperlukan antara lain untuk meningkatkan debit air bersih ke tujuh rumah susun sederhana sewa di Ibu Kota. “Itu yang urgent,” ujar Priyatno, Kamis, 20 September 2018. Yang memerlukan tambahan air bersih antara lain rumah susun Pegadungan, Daan Mogot, Rawa Buaya, Muara Baru, Penjaringan, dan Nagrak.

    Program lain yang mendesak, menurut Bambang, adalah relokasi jaringan pipa akibat proyek pemerintah. “Kalau pipanya enggak direlokasi, kan pelayanan kami ke pelanggan bisa terputus,” ucapnya. Selain itu, modal tambahan diperlukan untuk pembangunan jaringan pipa distribusi dan sistem penyediaan air minum (SPAM).

    Rabu lalu, Badan Anggaran DPRD DKI menolak permohonan PAM Jaya. Badan Anggaran khawatir tambahan modal itu akan dipakai untuk membiayai program kerja yang sejatinya merupakan kewajiban Palyja dan Aetra.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyayangkan penolakan DPRD atas permohonan penyertaan modal itu. Menurut dia, tambahan modal diperlukan PAM Jaya untuk meningkatkan cakupan layanan air bersih bagi masyarakat kecil. Apalagi, selama 12 tahun terakhir, tak ada penambahan jaringan pipa air bersih yang signifikan.

    Saat ini, cakupan layanan air perpipaan di Ibu Kota baru 60 persen dengan 851.155 sambungan. Masyarakat yang belum terlayani PAM Jaya rata-rata harus membeli air bersih Rp 20 ribu per hari. “Kalau ada pipa air, (pengeluarannya) bisa turun. Jadi ini untuk kepentingan warga banyak,” ujar Anies.

    Corporate Customer and Communication Manager PT Aetra Air Jakarta Astriena Veracia menjelaskan, Aetra akan berinvestasi sesuai dengan belanja modal yang telah direncanakan. Rencana investasi tersebut juga telah mendapatkan persetujuan dari PAM Jaya. Pada tahun ini, nilai investasi Aetra sekitar Rp 104 miliar.

    Baca juga: Priyatno, Dirut PAM Jaya yang Baru Siapkan Tiga Lumbung Air

    Corporate Communications and Social Responsibility Division Head Palyja Lydia Astriningworo belum memberikan pernyataan atas sikap PAM Jaya. Dia tak merespons panggilan telepon Tempo hingga tenggat tulisan.

    Wakil Ketua Badan Anggaran Triwisaksana sepakat dengan pernyataan Anies Baswedan bahwa peningkatan cakupan layanan air bersih PAM Jaya merupakan hal yang mendesak. Namun mayoritas anggota Badan Anggaran menilai peningkatan layanan air bersih itu merupakan kewajiban Palyja dan Aetra. “Kami khawatir ada tumpang tindih anggaran,” tutur politikus PKS itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.