Rabu, 19 September 2018

Tiga Fokus Nicke Widyawati Setelah Diangkat Jadi Dirut Pertamina

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nicke Widyawati setelah menyampaikan hasil RUPS Pertamina di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2018. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Nicke resmi diangkat menjadi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) pada 29 Agustus 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Nicke Widyawati setelah menyampaikan hasil RUPS Pertamina di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2018. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Nicke resmi diangkat menjadi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) pada 29 Agustus 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah telah menunjuk Nicke Widyawati sebagai Direktur Utama PT Pertamina yang baru. Setelah dilantik Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Rini Soemarno pada Rabu, 29 Agustus 2018, sejumlah tugas menanti Nicke.

    Baca: Bos Pertamina Nicke Widyawati Ingin Impor BBM Turun

    Menurut Nicke Widyawati, ia akan berfokus pada tiga kegiatan usaha dalam memimpin perusahaan minyak dan gas negara. “Dari hulu, produksi harus naik, kapasitas kilang bertambah, dan di hilir menyediakan energi untuk seluruh masyarakat dengan harga yang terjangkau dan mudah aksesnya,” ujarnya, Rabu, 29 Agustus 2018.

    Khusus kilang, menurut Nicke, Pertamina akan mengoptimalkan produksi minyak kilang Balikpapan dan menuntaskan pembangunan di kilang baru di Tuban, Jawa Timur. “Target harus jelas dan dua itu yang jadi prioritas,” katanya.

    Nicke menyebutkan salah satu tantangan Pertamina adalah mendukung kemandirian maritim nasional. Selain itu, perusahaan melakukan investasi, membangun kilang, menekan impor, dan menjalankan kebijakan B20 (biofuel 20 persen). Semua program tersebut harus segera diselesaikan.

    Nicke membantah anggapan bahwa penunjukannya kental dengan aroma politik. Dia juga akan meyakinkan sejumlah kalangan, yang ragu akan kapasitasnya memimpin Pertamina. “Rasanya saya tidak berpolitik, ya,” ucapnya.

    Pengangkatan dirinya sebagai Direktur Utama Pertamina, kata Nicke, adalah amanat negara. Dia membantah soal adanya perbincangan politik sebelum dipilih Presiden Joko Widodo. Ketika memutuskan bekerja di BUMN, ia harus menerima tugas negara, sebagai apa pun dan di mana pun. “Niat saya untuk nusa dan bangsa,” tuturnya.

    Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menjamin pemilihan Nicke sebagai Direktur Utama Pertamina tidak mengandung unsur politik. “Selama empat bulan ini, kami cukup mengevaluasi, dan calonnya disampaikan kepada Presiden,” ujarnya.

    Sebelumnya, Nicke menjabat pelaksana tugas direktur utama sejak 20 April 2018 setelah Menteri BUMN Rini Soemarno mencopot Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik. Nicke bergabung dengan Pertamina pada November 2017 sebagai direktur sumber daya manusia.

    PT Pertamina EP Asset 4 mencatatkan produksi gas sebesar 174,87 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada semester I tahun 2018. (Dok. Pertamina)

    Selain menunjuk Nicke, Menteri BUMN mengangkat Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu, menggantikan Syamsu Alam dan Direktur Sumber Daya Manusia Pertamina Kushartanto Koeswiranto. Dharmawan sebelumnya berkarier di BP Indonesia, sementara Kushartanto di PT Jasa Marga.

    Direktur Hulu Dharmawan Samsu mengaku belum bisa berbicara tentang strategi meningkatkan produksi minyak dan gas. “Saya akan kolaborasi dengan direktur sebelumnya untuk melihat apa yang sudah dicapai,” katanya.

    Adapun Direktur Sumber Daya Manusia Koeswiranto Kushartanto mengatakan akan menjalin kolaborasi dan kerja sama dengan semua pihak. Salah satunya menjalin komunikasi dengan serikat pekerja Pertamina. “Ini korporasi yang strategis. Saya akan berfokus ke opportunity yang ada di Pertamina,” ucapnya.

    Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan ada beberapa tugas strategis yang harus diselesaikan direktur baru. Tugas di sektor hilir adalah mengamankan pasokan bahan bakar minyak di seluruh Indonesia. Sedangkan di hulu adalah mengoptimalkan lifting di blok terminasi, yang kini dikelola Pertamina. Selain itu, Pertamina harus mampu menekan harga gas di bawah US$ 6 per juta satuan panas Britania (MMBTU).

    Baca: Nicke Widyawati Dirut Pertamina, JK Pesan Investasi Dalam Negeri

    Fahmy menyatakan direksi harus memastikan lifting nantinya mesti dapat ditingkatkan menjadi di atas satu juta barel per hari. "Tanpa melakukan agenda itu, dikhawatirkan Nicke Widyawati akan mengalami nasib serupa dengan Direktur Utama Pertamina sebelumnya, yang dicopot sebelum periode kepemimpinannya berakhir," tuturnya.

    ADITYA BUDIMAN | DIAS PRASONGKO | CHITRA PARAMAESTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.