Rabu, 19 Desember 2018

Video Diduga Penyiksaan terhadap TKW Adelina Sau Beredar

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penganiayaan terhadap wanita yang diduga Adelina Sau, tenaga kerja migran di Malaysia. Adelina tenaga kerja migran asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Istimewa

    Penganiayaan terhadap wanita yang diduga Adelina Sau, tenaga kerja migran di Malaysia. Adelina tenaga kerja migran asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah video yang menampilkan penyiksaan perempuan beredar di media sosial sejak pekan lalu. Dalam video yang berdurasi dua menit 13 detik itu menampilkan salah seorang perempuan paruh baya menganiaya seorang perempuan muda yang diduga adalah Adelina Sau, tenaga kerja Indonesia yang tewas di Malaysia.

    Dalam video yang diperoleh Tempo Jumat 23 Februari 2018 itu, terlihat perempuan paruh baya menganiaya wanita yang diduga Adelina.

    Baca juga: Aparat Hukum Diminta Usut Video Viral yang Diduga Adelinia

    Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengaku sudah melihat video itu. Namun pihaknya belum bisa memastikan, apakah perempuan muda dalam video yang menjadi korban pemukulan itu adalah Adelina. Iqbal mengatakan, pihaknya sudah meminta konfirmasi soal video itu kepada Kepolisian Diraja Malaysia untuk memastikan benar tidaknya perempuan jadi korban itu adalah Adelina. Namun, hingga kini Kepolisian Diraja Malaysia belum menjawabnya.

    “Sudah kami mintakan konfirmasi Kepolisian Malaysia, tapi proses investigasi memang belum rampung. Kita lihat nanti,” kata Iqbal melalui pesan singkat pada Minggu 25 Februari 2018.

    Adelina, 28 tahun, ditemukan tak berdaya di teras majikannya di kawasan Taman Kota Permai, Bukti Mertajam, Penang, Malaysia, Sabtu dua pekan lalu. Ketika itu, sejumlah luka ditemukan di lengan, kaki dan wajah perempuan asal Nusa Tenggara Timur itu. Adelina sempat dirawat di Rumah Sakit Bukit Mertajam, namun nyawanya tak tertolong sehari setelah ia diselamatkan dari rumah majikannya, 10 Februari 2018.

    Sebelum meninggal, Adelina sempat mengungkapkan dia telah dianiaya dan dipaksa tidur di luar rumah majikannya, bersama seekor anjing peliharaan. Perlakuan ini dialami Adelina selama sebulan terakhir.

    Kepolisian Malaysia telah menetapkan tiga orang berinisial ML, MA, dan JY sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan yang menewaskan Adelina. Dua tersangka yakni majikan perempuan Adelina dan saudara laki-lakinya, ditahan pada 11 Februari lalu. Keesokan harinya, polisi menahan ibu kandung majikan Adelina.

    Seperti dilansir Reuters, Rabu 21 Februari 2018 lalu, Jaksa Penuntut Umum Malaysia menuntut dua majikan Adelina: M.A.Ambika, 60 tahun dengan pasal pembunuhan. Ada pun putri majikan Adelina dituntut karena telah merekrut pekerja asing tanpa dokumen yang sah. Salah terdakwa dijerat pasal 302 dengan ancaman tertinggi yaitu hukuman mati.

    Di Indonesia, Bareskrim Mabes Polri menangkap dua calo yang diduga memberangkatkan Adelina Sau. Kepala Subdirektorat III Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Komisaris Besar Ferdi Sambo, mengatakan dua calo tersebut merupakan tetangga korban. “Mereka biasa merekrut orang untuk kerja di luar,” kata Ferdi.

    Dua calo Adelina itu adalah perempuan berusia 33 tahun berinisial FT dan seorang laki-laki berusia 37 tahun berinisial HP. Keduanya ditangkap Kepolisian Daerah NTT tiga hari lalu dan langsung ditetapkan sebagai tersangka sebelum ditahan di Polda NTT.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bakal turun tangan dalam menuntaskan kasus ini. Ia meminta pemerintah Malaysia memberikan hukuman yang tegas terhadap majikan Adelina. "Kalau perlu pun saya akan berhubungan dengan Pak Najib (Perdana Menteri Malaysia Najib Razak) untuk mempertegas hukumannya," kata Kalla.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.