Pariwisata Bali Paling Terdampak Letusan Gunung Agung

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar,  Bali, Senin pagi, 27 November 2017.  Bandara ditutup dan penerbangan ditunda akibat Gunung Agung erupsi. dok Angkasa Pura I

    Suasana di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Senin pagi, 27 November 2017. Bandara ditutup dan penerbangan ditunda akibat Gunung Agung erupsi. dok Angkasa Pura I

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan aktivitas vulkano Gunung Agung di Bali berpotensi meletus setelah peningkatan status menjadi awas. Kondisi ini berdampak terhadap industri pariwisata di Bali dan Lombok lantaran para pelancong tak lagi nyaman berkunjung.

    Juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan status ini bakal membuat wisatawan berupaya hengkang dari Pulau Dewata. Masalahnya, Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai bakal sulit melakukan operasional secara penuh karena abu vulkanis mengganggu penerbangan.

    Baca juga: Bandara Ngurah Rai Ditutup, 9 Bandara Disiapkan untuk Pengalihan

    Badan Nasional mencatat, sejak dua hari terakhir, ada 9.195 penumpang yang batal terbang dari Bandara Internasional Ngurah Rai. "Mereka harus ke Jawa Timur, ke Bandara Juanda, Banyuwangi, Jakarta, Semarang, Solo, atau di daerah lain untuk mengungsi," ujar Sutopo, kemarin.

    Sutopo menyatakan pihaknya tak bisa memprediksi hingga kapan status awas berlangsung di Gunung Agung. Biasanya, kata dia, gunung berapi baru bisa aman jika sudah meletus besar.

    Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan lesunya pariwisata Bali akan berdampak besar bagi pendapatan devisa negara. Hingga saat ini, Bali merupakan magnet utama kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. “Bencana seperti ini tak bisa diprediksi, itu yang buat saya cemas,” ujarnya.

    Kementerian mencatat, raihan devisa di sektor pariwisata pada 2016 sebesar US$ 13,5 miliar atau senilai Rp 182,2 triliun. Dari 38,6 juta kunjungan wisatawan asing, 18,7 juta di antaranya adalah ke Bali. “Kami akan jalin koordinasi dengan stakeholder pariwisata agar tidak panik,” kata Arief.

    Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan aktivitas Gunung Agung menyebabkan tingkat pembatalan hotel meningkat hingga 30 persen. Kondisi ini terjadi sejak beberapa bulan lalu. Para general manager hotel di Bali, kata dia, pasrah dan berharap aktivitas Gunung Agung mereda.

    Kementerian Perhubungan menyatakan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai ditutup hingga besok (hari ini). Adapun bandara terdekat, yakni Bandara Internasional Lombok, juga tetap harus bersiaga mengantisipasi perubahan situasi setiap saat. Diharapkan, para maskapai segera mengantisipasi adanya penundaan penerbangan atau perubahan jadwal ke bandara-bandara terdekat yang aman dari debu vulkanis.

    Ada beberapa bandara alternatif yang bisa dijadikan pilihan, antara lain Bandara Hasanuddin Makassar, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Komodo Nusa Tenggara Timur, dan Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan, Maria Kristi Endah, mengatakan akan memangkas perizinan perubahan jadwal. “Karena darurat segala urusan perubahan penerbangan tak perlu urus di Jakarta,” kata Maria.

    Baca juga: Penutupan Bandara Ngurah Rai Diperpanjang Akibat Gunung Agung

    Dari Yogyakarta dilaporkan 1.123 calon penumpang pesawat terbang batal berangkat menuju Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai akibat letusan Gunung Agung. “Ada 15 penerbangan langsung dari dan ke Yogyakarta-Denpasar, begitu juga sebaliknya, dibatalkan sepenuhnya sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” kata General Manager Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Agus Pandu Purnama, kemarin. Sedangkan dari Bali, kata dia, sebanyak 810 penumpang batal mendarat di Bandara Adisutjipto.

    AMIRULLAH | JENNY WIRAHADI | HENDARTYO HANGGI | MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.