Jokowi Pikat Pemilih Partai Islam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua anak berpose di samping Gubernur DKI Jakarta Jokowi usai menyaksikan Pertunjukan seni Gema Nusantara karya Bagong Kussudiardja dalam Perjalanan menjadi Indonesia di TIM, Cikini, Jakarta (28/11).  TEMPO/Dasril Roszandi

    Dua anak berpose di samping Gubernur DKI Jakarta Jokowi usai menyaksikan Pertunjukan seni Gema Nusantara karya Bagong Kussudiardja dalam Perjalanan menjadi Indonesia di TIM, Cikini, Jakarta (28/11). TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta--Elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presiden dalam Pemilihan Umum 2014 makin kokoh. Tidak hanya sukses mendominasi suara pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, berdasarkan dua survei terbaru, Jokowi juga sukses mencuri hati pemilih partai berbasis massa Islam.

    "Pemilih Jokowi berasal dari lintas partai," kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, dalam pemaparan hasil survei di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin 23 Desember 2013. Survei, ia mengimbuhkan, dilakukan pada 28 November-6 Desember 2013 terhadap 1.200 responden dengan metode wawancara tatap muka.

    Menurut Yunarto, sekitar 37,1 persen pemilih Partai Kebangkitan Bangsa memilih Jokowi sebagai presiden. Bekas Wali Kota Solo ini juga memikat 39,1 persen pemilih Partai Keadilan Sejahtera, 42,2 persen pemilih Partai Persatuan Pembangunan, dan 37,7 persen pemilih Partai Amanat Nasional. Jokowi hanya gagal mendominasi pemilih Partai Bulan Bintang, yang memilih Yusril Ihza Mahendra (60 persen).

    Temuan Charta Politika sebangun dengan hasil survei Indo Barometer. Dari polling yang digelar pada 4-15 Desember 2013 terhadap 240 responden di seluruh Indonesia, lembaga itu menemukan bahwa sebanyak 47,1 persen pemilih PKB mendukung Jokowi, begitu juga dengan PKS (50 persen), PAN (40), PPP (60), dan—ini yang berbeda, PBB (100 persen).

    “Daya tarik Jokowi yang melintasi sekat primordial telah membuat para pemilih partai Islam tertarik," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Mohammad Qodari. Bakal calon presiden yang diusung partai Islam, seperti Rhoma Irama dan Mahfud Md. dari PKB atau Hatta Rajasa dari PAN, kalah pamor dari kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.

    Rhoma, meskipun sudah terkenal, dinilai tak punya kompetensi sebagai presiden. Sedangkan Mahfud, walau dipandang bersih, tingkat pengenalannya rendah. "Hanya kalangan tertentu yang kenal Mahfud,” kata Qodari. Sedangkan calon presiden PKS yang sedang berkompetisi dalam pemilihan raya tak satu pun yang populer.

    Ketua PKS Hidayat Nur Wahid ragu akan hasil survei Indo Barometer yang menyatakan 50 persen pemilih PKS akan mencoblos Jokowi. Dia mempertanyakan siapa responden yang dinyatakan sebagai pemilih partai tersebut.

    Ketua Fraksi PKS di Dewan Perwakilan Rakyat ini menegaskan, 86 persen kader PKS akan memilih calon yang direkomendasikan partai. Namun ia mengaku tak bisa memprediksi sikap pemilih PKS yang bukan kader. "Kalau yang bukan kader, kami tak punya kewenangan organisasional untuk memberi arahan."

    Ketua Partai Persatuan Pembangunan Arwani Thomafi mengatakan tidak mempersoalkan hasil survei yang menyebutkan suara partainya berpindah ke Jokowi. Sebab, hasil survei dianggap tidak bisa bersih dari kepentingan pemesannya. "Kami berpandangan survei tidak bisa steril dari kepentingan, tetapi hasilnya tetap kami jadikan masukan saja," ujar Arwani.

    TIKA PRIMANDARI | KHAIRUL ANAM | WAYAN AGUS PURNOMO | TRI SUHARMAN | EFRI R

    Baca juga:
    Jokowi Ajak Hatta Lihat Bus Baru

    Tinjau Transjakarta, Jokowi dan Hatta Satu Mobil

    Diserang Lewat Internet, Jokowi: Enggak Usah Diurus

    Bupati Ngada Disarankan Tiru Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.