Kejanggalan Penghitungan Banyak Ditemukan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 1000 lilin dihidupkan oleh massa yang tergabung dalam Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) untuk mengapresiasi Kejujuran KPU di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta, 12 Juli 2014. TEMPO/Nurdiansah

    1000 lilin dihidupkan oleh massa yang tergabung dalam Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) untuk mengapresiasi Kejujuran KPU di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta, 12 Juli 2014. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta-Indikasi kecurangan kian banyak ditemukan dari hasil pindaian formulir C1 yang diunggah di situs resmi Komisi Pemilihan Umum. Modusnya pun beragam, seperti mengubah angka nol menjadi delapan, tanda X menjadi delapan, menambah satu angka di depan, bahkan mengganti angka tiga menjadi delapan.

    Di TPS 41 Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta Timur, tertulis perolehan suara calon presiden nomor urut 1 sebanyak 289. Sedangkan nomor undian dua sebanyak 231. Namun jumlah suara sahnya tertulis 470. Diduga angka 8 di tengah 289 sebenarnya adalah angka 3. Model lainnya ditemukan di TPS 32, Kota Batu, Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Di formulir C1 itu, pasangan nomor urut 1 dan 2 masing-masing memperoleh 122 dan 192 suara. Namun jumlah suara sahnya adalah 414.

    Ketidakakuratan paling mencolok terlihat di TPS 52, Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. Di situ ditulis Prabowo-Hatta memperoleh suara 125 dan Jokowi-Kalla meraih 210. Jumlah suara sah tertulis sebanyak 235. Diduga ada tambahan angka satu di depan perolehan suara calon nomor urut 1. (Baca:Golkar Bakal Khianati Prabowo, Agung Laksono: Kemungkinan Itu Ada)

    Kejanggalan penghitungan itu juga terjadi di beberapa TPS di Kota Yogyakarta; Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan; Wonosobo, Jawa Tengah; Makassar, Sulawesi Selatan; Jakarta Pusat; dan Tidore Kepulauan, Maluku Utara.

    Sebelumnya, di TPS 47 Kelapa Dua, Tangerang, Banten, ditemukan kejanggalan berupa perubahan tanda X menjadi angka 8. Temuan lainnya ada di TPS 19, Tanah Tinggi, Tangerang, Banten. Di sini ada tambahan angka 1 di depan suara pasangan nomor urut 1. KPU Kota Tangerang mengaku sudah mengecek ulang data form C1 di TPS 19 Tanah Tinggi.

    "Tak mungkin ada penggelembungan angka, karena kami punya salinan tujuh lembar C1. Sehingga kalau ada yang salah, kami cocokkan dengan C1 lain,” kata Ketua KPU Kota Tangerang, Sanusi Pane, kemarin. “Soal kesalahan tulis kemungkinan ada, apalagi C1 itu ditulis tangan." (Baca:Kampanye Usai, Pendukung Prabowo dan Jokowi Kembali 'Perang' Spanduk)
    Ketua Panitia Pengawas Pemilu Kota Yogyakarta, Agus Triyatno, juga menganggap tak ada unsur kesengajaan dalam kasus tak sesuainya jumlah total suara dengan perolehan suara calon dan blangko formulir kosong. “Itu murni kelalaian petugas secara administratif,” kata Agus.

    Ketua KPU Husni Kamil Manik memastikan kejadian tersebut merupakan kesalahan teknis petugas. “Tak ada kecurigaan (kesengajaan) atas kesalahan itu,” katanya.

    Potensi kecurangan muncul pula dalam pemungutan suara di luar negeri. Surat suara untuk para TKI dikirim via drop box pada 1-3 Juli. Saksi Jokowi-Jusuf Kalla di KBRI, Indah Ernawati, mengaku menemukan kejanggalan di Selangor. Ia keberatan lantaran semua surat suara sudah tercoblos untuk pasangan Prabowo-Hatta.

    Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri di Malaysia, Tengku Adnan, menyatakan tak ada kecurangan semacam itu. “Itu hanya rumor, kami menolak informasi tersebut,” kata Adnan. “Mohon sampaikan bukti agar kami dapat melacaknya.”

    SHAIDRA | ADDI MAWAHIBUN IDHOM | AYU CIPTA | PRIBADI WICAKSONO | ANANDA TERESIA | FEBRIANA FIRDAUS

    Baca juga:
    Pekan Ini, Waspadai Pembalikan Arah IHSG

    Israel Paksa 10 Ribu Warga Palestina Mengungsi

    Akan Dipanggil KPK, Megawati Belum Lakukan Persiapan  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.