JK: Indonesia, Kedua Terkuat Setelah Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengumumkan 34 nama menteri di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengumumkan 34 nama menteri di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan Indonesia siap menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Perekonomian Indonesia, kata Kalla, merupakan yang terbesar di ASEAN. Potensi Indonesia juga jauh lebih besar dibanding negara-negara lain sekawasan, karena besarnya pasar dan jumlah penduduk.

    “Kekuatan pasar Indonesia yang kedua terbesar setelah Cina,” kata Kalla dalam seminar “Memotret Perekonomian 2015”, yang diselenggarakan Tempo, di Jakarta Rabu 10 Desember 2014. Dari sisi penduduk, ujar Kalla, Indonesia juga memiliki keunggulan karena punya 20 persen orang kaya. “Sekaya-kayanya Malaysia, kita memiliki 20 persen kaum menengah. Artinya, kita lebih besar dua kali lipat,” kata dia.

    Kalla menambahkan, Indonesia juga diuntungkan karena memiliki jumlah tenaga kerja yang lebih besar. Pemerintah, ujar dia, akan menyiapkan pendidikan untuk menciptakan sebanyak mungkin tenaga ahli. “Kita membuat kekuatan dari dalam dan mengurangi kelemahan dari luar.”

    Selain Kalla, dalam acara ini hadir Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, serta Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad.

    Menteri Bambang mengatakan 2015 bukan tahun yang mudah. “Kita tidak bisa bersantai-santai,” ujarnya. Penyebabnya, tahun depan cuma Amerika Serikat yang diperkirakan bisa kembali tumbuh 3 persen--DIGIT. Adapun Cina, yang awalnya tumbuh dua digit, hanya akan tumbuh 7 persen. Jepang dan negara-negara Eropa juga mengalami kesulitan. Akibatnya, perekonomian Indonesia akan terganggu karena banyak mengekspor ke Cina.

    Karena itu, kata Bambang, konsumsi dan ekspor tidak lagi bisa menjadi lokomotif pertumbuhan. Satu-satunya cara: public dan private investment. “Tahun 2015 akan ditentukan berdasarkan berhasilnya investasi negeri-pemerintah dan swasta. Swasta bikin infrastruktur skala menengah ke atas dan manufacturing,” ujarnya.

    Meski begitu, Menteri Perdagangan Rachmat optimistis tahun depan Indonesia masih bisa menggenjot ekspor. Produk yang potensial adalah elektronik, tekstil dan produk turunannya, kimia, kayu dan furnitur, serta produk logam. Produk otomotif dan mesin juga bisa ditingkatkan. “Masih ada produk primer yang bisa didorong kinerja ekspornya, yakni perikanan, sesuai dengan misi pemerintah di sektor maritim," ujarnya.

    GS | PINGIT ARIA | ANDI RUSLI

    Topik terhangat:
    Golkar Pecah
    | Kasus Munir | Interpelasi Jokowi | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    FPI Ogah Sebut Fahrurrozi Gubernur FPI 

    Melongok Harta Puluhan Miliar Calon Dirjen Pajak 

    Busyro: Menteri Susi Adalah Siti Hajar Abad Ke-21

    Militer Intimidasi Pemutaran Film Senyap di Malang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.