Skandal FIFA, Runtuhnya 'Kerajaan' Sepp Blatter

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepp Blatter saat menggelar konferensi pers setelah melakukan pertemuan Komite Eksekutif luar biasa di Zurich, Swiss, 30 Mei 2015. Karena kehilangan hak keanggotaan, seluruh pemain dan tim asal Indonesia dilarang melakukan pertandingan internasional, termasuk terlibat di kompetisi FIFA dan AFC. REUTERS/Arnd Wiegmann

    Sepp Blatter saat menggelar konferensi pers setelah melakukan pertemuan Komite Eksekutif luar biasa di Zurich, Swiss, 30 Mei 2015. Karena kehilangan hak keanggotaan, seluruh pemain dan tim asal Indonesia dilarang melakukan pertandingan internasional, termasuk terlibat di kompetisi FIFA dan AFC. REUTERS/Arnd Wiegmann

    TEMPO.CO, Jakarta - Berakhir sudah kekuasaan Sepp Blatter, 79 tahun, di Badan Sepak Bola Dunia atau FIFA. Belum sepekan menjabat kembali sebagai Presiden FIFA untuk kelima kalinya dalam kongres pada 29 Mei lalu, laki-laki Swiss yang bercokol di organisasi ini selama 40 tahun tersebut menyatakan mundur. “Mandat yang saya terima tak didukung semua orang,” katanya.

     Blatter pun lengser dengan janji menyiapkan Kongres Luar Biasa FIFA pada Desember atau Maret 2015 mendatang. Benarkah semata karena tak ada yang mendukungnya yang menyebabkan dia lengser?

     Menurut media-media Amerika Serikat, Biro Investigasi Federal sedang membidik Blatter dalam dugaan korupsi di FIFA. FBI dan Kejaksaan Amerika sudah meringkus para pejabat FIFA dengan tuduhan rasuah itu. Intronya dimulai ketika New York Times merilis tuduhan suap kepada Sekretaris Jenderal Jerome Valcke dalam penunjukan Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010.

    Valcke, yang karib dengan Blatter, semula menyangkal tuduhan itu, tapi dia tak muncul lagi ke publik, bahkan absen di kejuaraan Piala Dunia Wanita di Kanada. Menurut laporan New York Times, pengusutan aliran suap itu mendekatkan penyelidikan kepada Blatter, lebih cepat dari dugaan semula. Enam pejabat FIFA pun masuk dalam daftar Interpol.

     GUARDIAN | EUROSPORT | REUTERS | IRFAN

    Berikutnya... Siapa Joseph S. Blatter


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.