Rencana Penurunan Harga BBM, Jokowi Fokus Jaga Daya Beli

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi BBM. TEMPO/Imam Sukamto

    Ilustrasi BBM. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo terus bermanuver untuk menyelamatkan perekonomian. Setelah meluncurkan dua Paket Kebijakan Ekonomi pada September lalu, pekan ini Jokowi akan mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi III, yang di antaranya berisi penurunan harga bahan bakar minyak jenis Premium.

    Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan paket kebijakan yang terbaru ini dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat dan daya tahan ekonomi. “Penurunan harga BBM pasti ada pengaruhnya terhadap peningkatan daya beli,” katanya kepada Tempo, kemarin. Saat ini harga Premium Rp 7.300-7.400 per liter.

    Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono, ragu akan dampak penurunan harga BBM terhadap peningkatan daya beli masyarakat. Sebab, dia memprediksi penurunan harga BBM tak akan lebih dari Rp 1.000 per liter. Meski begitu, Tony tetap mendukung langkah pemerintah menekan harga Premium.

    “Setidaknya pemerintah telah bertindak adil dengan memberikan ruang kepada produsen dan konsumen yang tengah dilanda kelesuan,” kata Tony. Kelesuan yang dialami produsen dan konsumen ini terlihat dari deflasi September 2015 sebesar 0,05 persen. “Deflasi merupakan indikasi kelesuan atau rendahnya kepercayaan konsumen.”

    Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai penurunan harga BBM lebih tepat diterapkan terhadap solar bersubsidi. Alasannya, harga Premium sekarang sudah berada di bawah harga keekonomian sebesar Rp 7.650 per liter. “Harusnya harga solar dikurangi Rp 1.000 per liter,” dia mengungkapkan.

    Mamit menghitung, berdasarkan Mid Oil Platts Singapore (MOPS) periode 24 Agustus-23 September 2015, harga keekonomian solar hanya Rp 5.900 per liter dengan kurs rupiah 14 ribu per dolar AS. Sedangkan berdasarkan MOPS tiga bulan, harga jual solar hanya Rp 6.500 per liter. Saat ini solar bersubsidi dijual pada harga Rp 6.900 per liter.

    Ditemui di kantor Kementerian Perekonomian pada Jumat pekan lalu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan siap menanggung defisit akibat penurunan harga Premium. “Sejauh Pertamina masih memiliki laba dan potensi untuk berkembang, ya, tidak ada masalah,” dia menegaskan.

    Dwi menjelaskan, jika memperhitungkan harga rata-rata minyak dunia, kurs rupiah, dan MOPS enam bulan, harga keekonomian Premium mencapai Rp 8.300 per liter dan solar Rp 6.750 per liter. Namun Dwi menyatakan Pertamina tetap mendukung rencana penurunan harga, sekalipun pemerintah tidak menyiapkan anggaran penambal defisit perseroan.

    Pertamina pernah mengklaim nilai kerugian yang ditanggung akibat menjual Premium sejak awal 2015 mencapai Rp 15,2 triliun. Namun Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menyatakan penurunan harga Premium masih bisa dilakukan lantaran harga keekonomiannya hanya sebesar Rp 7.000-6.500 per liter.

    SINGGIH SOARES | ROBBY IRFANY | EFRI R


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.