Saung Mewah di Lapas Sukamiskin, Apa Saja Fasilitasnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly menjelaskan kepada wartawan tentang program pengurusan passport di kantor imigrasi Jakarta. TEMPO/Larissa Huda

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly menjelaskan kepada wartawan tentang program pengurusan passport di kantor imigrasi Jakarta. TEMPO/Larissa Huda

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly memastikan pemerintah akan membongkar 37 saung mewah yang berada di kawasan Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Arcamanik, Bandung. Sebagai gantinya, pemerintah akan membangun gedung atau sarana baru yang bisa menampung keluarga narapidana yang berkunjung atau menggelar kegiatan. “Resistan kalau langsung dibongkar. Kami bangun dulu yang punya pemerintah,” kata Yasonna Senin 6 Februari 2017.

    Menurut Yasonna, saung-saung mewah di dalam penjara itu bukan bagian dari fasilitas yang dibangun pemerintah. Saung itu dibangun atas inisiatif para narapidana saat mantan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin dan mantan Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad menjalani hukuman di Sukamiskin. Saung lantas diberi sejumlah fasilitas, antara lain lemari pendingin, pemanas air minum, dan sound system.

    Baca juga:
    Napi Korupsi Bebas Pelesiran (1): Bertemu Istri Muda

    Napi Pelesiran (2): Ada Iming-Iming Uang Sogokan

    Napi Pelesiran (3): Diantar Pajero Hitam
    Napi Pelesiran (4): Inio Alasan Mereka

    Sebagian besar saung menjadi milik sejumlah narapidana korupsi kelas kakap, seperti mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, dan mantan Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo. Saung yang biasa digunakan sebagai tempat menerima kunjungan keluarga hingga acara pesta itu juga disewakan kepada narapidana lain senilai Rp 50-100 ribu untuk sekali penggunaan.

    Walhasil, saung itu hanya bisa dinikmati oleh narapidana yang berduit. Narapidana yang tak punya uang—rata-rata narapidana kasus pidana umum—harus rela berdesakan di aula dekat gerbang utama penjara bila ada keluarga mereka yang berkunjung. Sebagian yang lain bahkan mesti rela menggelar tikar di selasar ruangan para sipir dan musala.

    Kondisi itu membuat Yasonna geram dan meminta Inspektur Jenderal Kementerian Hukum memeriksa semua petugas. “Dari Kepala Lapas Sukamiskin hingga sipir,” kata Yasonna. Selain itu, Kementerian akan mengganti sebagian besar petugas. “Semua akan diganti setelah ada hasil dari Irjen. Kami sisakan (petugas sipir) yang masih bersih.”

    Meski begitu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat Susy Susilawati membantah anggapan bahwa keberadaan saung-saung itu menyalahi aturan. Ia juga menolak saung-saung itu disebut sebagai fasilitas mewah untuk narapidana. “Kalau bersih memang ya. Kalau mewah, saya tidak melihat hal-hal mewah,” ujar Susy.

    Toh, mantan narapidana Lapas Sukamiskin dan mantan Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Patrice Rio Capella, mengakui menggelontorkan banyak uang untuk membangun satu saung. "Biaya membikin saungnya habis puluhan jutalah," ujarnya kepada Tempo pada pertengahan Januari lalu.

    Rio, yang bebas pada Desember 2016, mengaku menghibahkan saung itu kepada pengelola taman. Tiap bulan, menurut dia, para pemilik saung menyetorkan ratusan ribu rupiah untuk membayar iuran listrik serta menggaji para tahanan pendamping yang merawat taman di sekitar saung.

    MAJALAH TEMPO | PUTRA PRIMA PERDANA | FRANSISCO ROSARIANS

    Berita lainnya:
    Percakapan Mesum Mirip Rizieq-Firza Husein, Asli atau Palsu?
    Aura Kasih Tak Libatkan Glenn di Lagu Barunya, Ini Alasannya

    Ikuti Cuitan SBY, Begini Tingkah Netizen Pakai #SayaBertanya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.