Terbentur Kebijakan Abu-abu Pembukaan MICE Skala Masif

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengunjung dan penjual saling berinteraksi saat pameran pariwisata Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) dalam masa pandemi COVID-19 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Kamis, 10 Juni 2021. Pameran pariwisata dan perjalanan tahunan itu digelar secara luring dan daring dengan penerapan protokol kesehatan. Johannes P. Christo

    Para pengunjung dan penjual saling berinteraksi saat pameran pariwisata Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) dalam masa pandemi COVID-19 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Kamis, 10 Juni 2021. Pameran pariwisata dan perjalanan tahunan itu digelar secara luring dan daring dengan penerapan protokol kesehatan. Johannes P. Christo

    TEMPO.COJakarta – Berulang kali mengikuti rapat persiapan pembukaan acara meeting, incentive, convention, dan exhibition (MICE), Hosea Andreas Runkat merasa kecele. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperasi) itu mengatakan pemerintah sudah berulang kali melempar wacana membuka kegiatan ekonomi, seperti pameran dan konser, namun pelaksanaannya molor.

    Mundurnya pembukaan MICE, ia menilai, bukan hanya disebabkan faktor pandemi Covid-19. Acap rencana itu sulit terealisasi akibat ketidaksinkronan kebijakan antar-kementerian dan lembaga. Saat ini, pemerintah dinilai tak punya aturan solid soal pelaksanaan kegiatan pameran, konferensi, sampai konser di tingkat pusat dan daerah.

    Sikap pemerintah dinilai abu-abu dan tidak memberikan kepastian bagi dunia usaha. “Kenyataan di lapangan tidak semudah itu. Kami prediksi mungkin implementasi pembukaan MICE baru tahun depan. Sinkronisasinya, kadang-kadang Kementerian ini bilang apa, lalu pemerintah daerah mengambil alternatif,” ujar Hosea saat dihubungi pada Kamis, 30 September 2021.

    Hosea bercerita, ia telah mengikuti rangkaian rapat pembukaan MICE sejak akhir 2020 bersama pemerintah. Kala itu pemerintah sudah mewacanakan akan membuka kegiatan di convention center, seperti pameran, secara bertahap pada 2021.

    Pameran sempat berjalan satu kali pada Februari di JIExpo Kemayoran, yakni Indonesia International Motor Show. Pemerintah memberikan izin kepada pengelola untuk menggelar pameran dengan kapasitas pengunjung yang dibatasi. Namun setelah itu, tak ada lagi pameran skala nasional yang terlaksana.

    Apalagi sejak gelombang kedua pandemi merebak di Indonesia, pemerintah menyetop sementara acara MICE yang melibatkan banyak orang. Hosea mengatakan pengusaha membutuhkan relaksasi izin untuk menggelar acara pameran di tengah angka Covid-19 yang telah menunjukkan tren penurunan penyebaran kasus.

    Pengusaha disebut-sebut telah menantikan pembukaan kegiatan MICE dan mempersiapkan infrastruktur dan fasilitas yang mendukung pelaksanaan kegiatan pameran sesuai protokol kesehatan yang ditentukan. “Kami sudah siap. Tinggal tunggu pemerintah. Ibaratnya kami air, ini sudah di ujung keran, tinggal dibuka,” tutur Hosea.

    Selama pandemi Covid-19, Asperasi mencatat pengusaha yang bergerak di sektor MICE mengalami rugi bandar. Pada 2020, kerugian sektor usaha convention center mencapai Rp 43-44 triliun. Kerugian tahun ini, ia memprediksi, akan lebih besar dari tahun lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.