Ragam Kisah Pengusaha yang Kembali Gigit Jari Akibat Perpanjangan PPKM Darurat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rencananya, apabila PPKM Darurat jadi dibuka secara bertahap pada 26 Juli 2021 mendatang, maka pelonggaran tahap pertama salah satunya akan dilakukan pada pasar tradisional.

    Pasar tradisional yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari akan diizinkan dibuka sampai pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung 50 persen. Sementara, pasar tradisional selain yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari diizinkan dibuka sampai dengan pukul 15.00, juga dengan kapasitas maksimal 50 persen.

    Selain itu, pedagang kaki lima, toko kelontong, agen atau penjual voucher, pangkas rambut, penatu atau laundry, pedagang asongan, bengkel kecil, cucian kendaraan, dan usaha kecil lainnya yang sejenis juga diizinkan buka sampai dengan pukul 21.00.

    Kemudian, warung makan, pedagang kaki lima, lapak jajanan, dan sejenisnya yang memiliki tempat usaha di ruang terbuka diizinkan buka sampai pukul 21.00 dan maksimum waktu makan untuk setiap pengunjung 30 menit.

    Pengoperasian sektor ini dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Sedangkan pengaturan teknisnya akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. 

    Namun meski tak sedikit pengusaha yang keberatan dengan kebijakan terbaru itu, Direktur Center of Economic and Law Studies atau Celios Bhima Yudhistira pesimistis perpanjangan PPKM Darurat bisa efektif mengendalikan pandemi Covid-19. Sebab, perpanjangan hanya kurang dari sepekan.

    Bhima memperkirakan dampak perpanjangan PPKM Darurat ke pemulihan krisis akibat wabah akan kecil. Di sisi lain, pembatasan yang tidak maksimum itu pun membingungkan masyarakat.

    Ketimbang kembali memberlakukan PPKM, pemerintah seharusnya tegas menerapkan penguncian wilayah atau lockdown. Salah satu negara yang sukses melakukan lockdown ketat adalah Cina yang perekonomiannya tumbuh solid dan menjadi negara paling cepat keluar dari resesi setelah kebijakan penguncian dicabut.

    Saat menangani pandemi, kata Bhima, porsi stimulus fiskal Cina adalah 6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara di Indonesia, anggaran pemulihan ekonomi nasionalnya baru mencapai 4,8 persen dari PDB. "Jadi stimulusnya perlu ditambah lagi."

    CAESAR AKBAR | FRANCISCA CHRISTY ROSANA

    Baca: Profil Ari Kuncoro, Rektor UI yang Diizinkan Jokowi Rangkap Jabatan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Resepsi Pernikahan di PPKM Level 4 dan 3

    Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, atau PPKM, dengan skema level juga mengatur soal resepsi pernikahan. Simak aturannya.