Musim PHK di Tengah Harapan Ekonomi Tumbuh Positif

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi PHK. Shutterstock

    Ilustrasi PHK. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta – Ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK bagi industri yang bergerak di sektor retail belum berakhir. Baru-baru ini, 3.000 karyawan Giant menghadapi risiko pemecatan setelah PT Hero Supermarket Tbk berencana menutup 80 gerainya di seluruh Indonesia.

    Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan perusahaan-perusahaan retail menghadapi tantangan seiring dengan tumbuhnya e-commerce. Berdasarkan data Sirclo, terdapat sebanyak 12 juta pengguna e-commerce baru selama pandemi Covid-19.

    “Mereka menghadapi persaingan tajam dengan e-commerce,” kata Iskandar saat dihubungi Tempo pada Kamis, 27 Mei 2021.

    Fenomena maraknya penutupan gerai retail yang menyebabkan bertambahnya jumlah pengangguran terjadi sejak 2020. Pada akhir tahun lalu, perusahaan retail yang bergerak di bidang fashion, seperti Sogo, Seibu, sampai Lafayette melakukan efisiensi pegawai.

    Sogo, misalnya, dikabarkan melakukan PHK hingga 2.500 karyawan. Kondisi ini terjadi lantaran likuiditas perusahaan terus tergerus di tengah maraknya tren masyarakat berbelanja secara daring dan menurunnya jumlah pengunjung pusat perbelanjaan. Sementara itu, beban operasional seperti sewa masih harus ditanggung perusahaan.

    Selain perusahaan di bawah naungan MAP, PT Matahari Departemen Store juga mengalihkan beberapa gerainya dari offline menjadi online. Situasi yang sama pun dihadapi Ramayana—pusat perbelanjaan pakain yang pernah berjaya pada awal 2000-an. Selama pandemi, gerai ini juga tak kuasa mempertahankan belasan tokonya di berbagai kota di Indonesia yang berakibat pada bertambahnya jumlah karyawan yang terkena PHK.

    Menurut Iskandar, menjelang akhir semester I 2021, sejatinya sejumlah sektor ekonomi telah melaju ke jalur positif. Sektor kesehatan, informasi dan komunikasi, serta pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi.

    Sektor manufaktur juga perlahan mulai pulih dengan adanya relaksasi pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM oleh pemerintah. “Kalau lihat leading indicators di bawah ini penjualan kendaraan bermotor meningkat 227 persen di April, PMI manufaktur meningkat pesat menjadi 54,6, ekspor meningkat, dan neraca perdagangan surplus n uang beredar meningkat menjadi 11,4 persen pada April,” ujar Iskandar.

    Indikator ini akan menjadi pijakan kuat bagi pertumbuhan ekonomi pada akhir kuartal II nanti. Di pengujung Juni, Iskandar memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai lebih dari 7 persen secara year one year.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.