Jurus DKI Tekan Wabah: Pasang Stiker dan Tes Antigen Pemudik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stiker tanda khusus pemudik yang ditempelkan di bagian rumahnya di kawasan Lenteng Agung, Jakarta, Senin, 17 Mei 2021. Pemasangan tanda ini dilakukan sebagai pendataan pemudik dan menekan penyebaran Covid-19. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Stiker tanda khusus pemudik yang ditempelkan di bagian rumahnya di kawasan Lenteng Agung, Jakarta, Senin, 17 Mei 2021. Pemasangan tanda ini dilakukan sebagai pendataan pemudik dan menekan penyebaran Covid-19. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Gelombang pemudik pada arus balik Lebaran diperkirakan mencapai puncaknya pada Sabtu hingga Ahad, 22-23 Mei 2021. Para pemudik ini adalah mereka yang nekat keluar Ibu Kota meski larangan mudik sudah diberlakukan.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, mereka yang pulang kampung saat pengetatan dan larangan mudik diperkirakan mencapai 1,5 juta orang.

    Pemerintah dan aparat keamanan pun harus bekerja ekstra keras agar kepulangan kembali para pemudik ke Ibu Kota itu tak membawa virus Corona. Polisi pun melakukan penyekatan dengan disertai tes usap antigen secara acak kepada para pemudik di pos- pos perbatasan Jabodetabek.

    Ancaman lonjakan kasus Covid-19 pun di depan mata. Benar saja, Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan ada 148 orang positif dari pemeriksaan terhadap 22.910 orang di pos penyekatan KM 34B Cibatu, Tol Cikampek Arah Jakarta. "Dan dari angka 22.910 itu ditemukan 148 orang yang positif atau reaktif," kata Anies pada Rabu, 19 Mei 2021.

    Waktu itu, petugas gabungan menghentikan 5.955 kendaraan yang melintasi jalan tol tersebut. Penumpang dan kendaraan dipilih secara acak. "Tujuannya adalah ini sebagai skrining pertama bagi warga yang kembali ke Jakarta," kata Anies.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.