Saat Demokrasi Amerika Serikat Tercoreng

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Te.co Blank

    Logo Te.co Blank

    TEMPO.CO, - Demokrasi Amerika Serikat menjadi sorotan setelah ribuan orang merangsek masuk gedung US Capitol sehingga mengganggu pengesahan hasil pemilihan elektoral yang memenangkan Joe Biden pada Rabu pekan lalu. Massa berani bergerak diduga terprovokasi pidato Presiden Donald Trump yang tak kunjung mengakui kekalahan dan menuding pemilihan presiden 2020 curang.

    Empat peserta unjuk rasa serta seorang polisi tewas akibat kerusuhan ini. Semakin miris lantaran Donald Trump menyebut massa pendukungnya yang menyerbu US Capitol sebagai patriot. Menjadikannya noda hitam dalam sejarah Amerika Serikat yang sering dijadikan model pemerintahan demokratis. 

    Kerusuhan US Capitol mungkin bisa cepat mereda andai Donald Trump bergegas meminta pendukungnya untuk menahan diri. Namun kenyataannya hal ini butuh waktu yang lama sebelum Trump meminta mereka menghormati hukum. Itu pun setelah banyak pihak di Amerika Serikat mendesak Trump bicara.

    Musuh-musuh Amerika Serikat seperti Iran, Cina, dan Rusia pun 'mentertawakan' demokrasi AS atas kerusuhan itu. "Apa yang kami lihat di Amerika Serikat kemarin (Rabu) malam dan hari ini menunjukkan di atas segalanya betapa rapuhnya dan rentannya demokrasi Barat," kata Presiden Iran Hasan Rouhani dalam pidatonya.

    Liga Pemuda Komunis membuat montase foto kekerasan di Capitol di mikroblog Weibo dengan judul: "Pada tanggal enam, Kongres AS, situs yang paling indah untuk dilihat". Mereka seolah menyindir Ketua DPR AS Nancy Pelosi yang mendukung unjuk rasa besar aktivis prodemokradi dsn antipemerintah di Hong Kong pada Juni 2019.

    Cina yang dipimpin komunis telah lama menuduh AS munafik dalam upayanya untuk mempromosikan demokrasi dan mengadvokasi hak asasi manusia di luar negeri.

    Sementara itu, Konstantin Kosachyov, ketua komite urusan luar negeri majelis tinggi Rusia, mengatakan kerusuhan di US Capitol menunjukkan bahwa Washington tidak punya hak untuk menguliahi negara lain tentang demokrasi. “Perayaan demokrasi telah berakhir. Sayangnya, ini mencapai titik terendah, dan saya mengatakan ini tanpa sedikit pun sombong," tuturnya.

    Preisden Iran Hassan Rouhani, memasukan surat suaranya saat pemilu parlemen di Tehran, Iran, 21 Febrauri 2020. Official Presidential website/Handout via REUTERS

    Ilmuwan politik Daniel Ziblatt, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari kehancuran demokrasi di Eropa, Amerika Latin, dan Amerika Serikat, percaya bahwa demokrasi sedang terancam di seluruh dunia. 

    "AS adalah negara demokrasi yang cukup tua, itu adalah demokrasi yang kaya. Ini harus membuatnya stabil. Dan fakta bahwa kami melihat erosi demokrasi di AS harus menjadi tanda peringatan bagi negara lain," kata Ziblatt yang bersama Steven Levitsky, menulis buku How Democracies Die .  

    Kepada Deutsche Welle, Ziblatt mengatakan kaum mayoritas di AS, yakni kulit putih, merasa mengalami penurunan. Imbasnya polarisasi pun terjadi. "Tingkat polarisasi, bagaimanapun, jauh lebih tinggi di Amerika Serikat daripada di kebanyakan negara Eropa," tuturnya.

    Pendukung Presiden Trump berkumpul di depan Gedung US Capitol, 6 Januari 2021. [REUTERS / Stephanie Keith]

    Enam hari berlalu setelah kerusuhan, ketegangan tampak belum mereda di Amerika Serikat. Terbaru Biro Investigasi Federal (FBI) mengatakan kemungkinan adanya protes bersenjata di seluruh wilayah jelang pelantikan presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari besok. Seorang sumber Reuters mengatakan peringatan FBI ini berlaku untuk akhir pekan hingga hari pelantikan.

    Garda Nasional Amerika Serikat mengatakan akan mengerahkan 15 ribu personel ke Washington. Kepala Biro Pengawal Nasional Jenderal Daniel Hokanson mengatakan dia mengharapkan sekitar 10 ribu tentara di Washington pada Sabtu untuk membantu menyediakan keamanan, logistik dan komunikasi.

    "Jumlahnya bisa meningkat menjadi 15 ribu jika diminta oleh otoritas lokal," katanya dikutip dari Reuters, Selasa, 12 Januari 2021.

    TIMES OF ISRAEL | REUTERS | DW

    https://www.timesofisrael.com/fragile-vulnerable-iran-china-russia-mock-us-democracy-after-capitol-chaos/

    https://m.dw.com/en/capitol-hill-riots-are-western-democracies-under-attack/a-56163820

    https://www.reuters.com/article/idUSKBN29G0Q5?il=0


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penularan Covid-19 Menurun di 2 dari 7 Provinsi, PPKM Diperpanjang 14 Hari

    Penurunan penularan Covid-19 terjadi di 2 dari 7 provinsi yang menerapkan PPKM. Pemerintah memperpanjang PPKM selama 2 minggu.