Korban Diracun di Rusia Terus Berjatuhan, Otak Pelaku Tak Pernah Diketahui

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • logo tempo

    logo tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Daftar jumlah korban diracun di Rusia semakin panjang. Terbaru, Alexei Navalny, penggiat anti-korupsi dan pernah menantang presiden Vladimir Putin dalam pemilihan presiden Rusia tahun 2018 mengalami koma akibat dugaan diracun hari Kamis pekan lalu.

    Para korban yang diracun memiliki kemiripan dalam hal aktivitas dan sikap mereka terhadap masalah politik, keamanan, hukum, HAM, dan ekonomi yang dijalankan pemerintah Rusia.

    Profesi mereka ada aktivis HAM dan lingkungan, jurnalis, ilmuwan, agen mata-mata, politisi, dan budayawan.

    Beberapa korban ada yang dulu pernah menjadi agen mata-mata intelijen Rusia namun kemudian melarikan diri dan membelot ke negara yang dianggap musuh oleh penguasa Rusia.

    Hampir semua yang menjadi korban racun diberitakan media internasional sebagai oposisi atau pengkritik keras terhadap penguasa Rusia termasuk yang berkuasa saat ini, Presiden Vladimir Putin.

    Mereka yang jadi sasaran diracun sebelumnya sudah menjadi target pembunuhan atau ancaman kematian lainnya. Mereka yang sudah diracun namun masih hidup, tetap diburu untuk dihabisi nyawanya.

    Alexei Navalny misalnya, sudah beberapa kali menjadi target pembunuhan. Bahkan ini racun kedua yang menimpa dirinya. Pada tahun 2017, dia disiram zat kimia antibiotik hijau sehingga mengganggu penglihatannya hingga saat ini.

    Tahun lalu, 2019, Navalny yang dijebloskan ke penjara karena mengorganisai unjuk rasa memprotes maraknya korupsi di Rusia, dicurigai telah diracun.

    Dan Kamis pekan lalu, dalam perjalanannya menjelang kampanye pemilihan lokal dari Siberia ke Moscow, Navalny memesan teh di kafe Vienna di bandara Tomsk, Siberia. Dia sekarat di dalam pesawat, tak sadarkan diri.

    Rekan seperjalanan dan istrinya yakin Navalny diracun. Jika nanti terbukti diracun berdasarkan hasil pemeriksaan dokter di Jerman yang merawat Navalny, ini artinya pelaku ingin membunuh Navalny di Siberia, ratusan kilometer jaraknya dari Moscow.

    Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny di Moskow, Russia, 29 September 2019. Navalny juga dikenal aktif di sosial media. Mayoritas pengikutnya merupakan kalangan muda, yang meledek kelompok mapan dan setia kepada Putin. Dia memiliki cara untuk mendapatkan informasi soal perusahaan dan kinerja keuangan yaitu menjadi pemegang saham minoritas. REUTERS/Shamil Zhumatov

    Kemiripan lain dari para korban yang diracun adalah tak satupun otak pelaku ditemukan untuk dimintai pertanggungjawaban.

    Dalam kasus racun yang hampir membunuh mantan mata-mata Rusia yang membelot ke Inggris, Sergei Skripal dan anak perempuannya Yulia di Salisbury, Inggris, dua warga Rusia bernama Alexander Petrov dan Ruslan Boshirov menjadi tersangka.

    Keduanya dicurigai sebagai pelaku karena mereka berada di dekat rumah Skripal. Mereka mengaku sedang berwisata di Salisbury, namun pemerintah Inggris menegaskan keduanya merupakan aparat intelijen Rusia, GRU.

    Kanselor Jerman Angela Merkel dalam pernyataan bersama dengan Menteri Luar Negeri Heiko Maas meminta otoritas Rusia melakukan penyelidikan penuh mengenai racun pada tubuh Navalny dan menuntut pertanggungjawaban mereka.

    "Mengingat peran penting Navalny dalam politik oposisi di Rusia, aparat berwenang di sana sekarang diminta untuk segera menyelidiki kejahatan ini secara rincil dan dalam transparansi penuh," kata Merkel, sebagaimana dikutip dari abc.net.au, 25 Agustus 2020.

    Jerman beberapa kali menerima warga Rusia yang diracun untuk menjalani perawatan. Sebelum Navalny, Viktor Kalashnikov, jurnalis freelance dan mantan agen KGB yang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Navalny saat ini dirawat, RS Chrite di Berlin pada November 2010. Dokter menemukan kandungan merkuri 3.7 mikrogram di darahnya. Ia diracun bersama istrinya.

    "Moscow meracun kami," kata Viktor kepada media Jerman, Focus.

    Aktivis Pussy Cat keturunan Rusia-Kanada, Pyotr Verzilov, dipindahkan ke rumah sakit di Berlin, Jerman setelah diracun pada tahun 2018 di Moscow. Dia diracun beberapa saat setelah diwawancara untuk mengkritisi sistem hukum Rusia.

    Kremlin membantah keterlibatannya meracun warganya yang rekam jejak mereka sebagai pengkritik atau oposisi pemerintah Rusia.

    Begitupun Rusia sepertinya tidak mau mengambil inisiatif membongkar kejahatan racun ini untuk mendapatkan jawaban mengapa orang-orang yang dikenal kritis dan berseberangan dengan pemerintah kerap menjadi target untuk diracun. Bersamaan itu, Rusia mengklaim menghormati kemerdekaan berpendapat sebagai salah satu pilar demokrasi.

    Seperti hantu, kasus racun di Rusia menimbulkan jatuh korban yang jumlahnya bertambah terus, namun pelakunya gentayangan tanpa bisa disentuh apalagi ditangkap.

    https://www.abc.net.au/news/2020-08-24/germany-protect-critic-putin-alexei-navalny-after-alleged-poison/12591254

    https://www.dw.com/en/berlin-hospital-says-alexei-navalny-was-likely-poisoned/a-54679649


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.