Cermat Menimbang Investasi di Tengah Roller Coaster Harga Emas

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Di dunia, harga emas mulai menembus rekor level tertinggi sepanjang sejarah sejak Senin 27 Juli 2020, awal pekan ini.  Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin 27 Juli 2020 pukul 05.17 WIB, harga emas Comex kontrak Desember 2020 naik 0,51 persen atau 9,9 poin menuju level US$ 1.935,1 per troy ounce. Sedangkan harga spot berhasil naik 0,22 persen atau 4,2 poin ke level US$ 1.906,22 per troy ounce. Kedua level itu merupakan harga emas tertinggi sejak 2011 dan menjadi rekor harga baru sepanjang sejarah, yaitu di atas level intraday US$ 1.921,7 per troy ounce.

    Sepanjang tahun berjalan 2020, harga emas telah menguat hingga 25,7 persen, mengungguli kinerja komoditas lainnya yang mayoritas masih berusaha untuk pulih dari koreksi yang cukup dalam akibat pandemi Covid-19.

    Warga menerima uang tunai setelah menjual perhiasannya di sebuah toko emas di Bangkok, Thailand, 16 April 2020. Harga emas di Thailand mencapai level tertinggi sejak 2012. REUTERS/Jorge Silva

    Bahkan, emas juga berhasil memimpin kinerja aset-aset investasi aman lainnya seperti yen Jepang yang hanya menguat 2,6 persen sepanjang tahun berjalan 2020 dan indeks dolar AS yang justru melemah 1,86 persen secara year to date.

    Sebelumnya, Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memperkirakan, tren penguatan harga emas masih akan terjadi seiring dengan faktor pendukungnya yang juga masih akan bertahan di pasar dalam jangka menengah. “Tren penguatan masih belum akan hilang, kecuali vaksin ditemukan, mungkin tren harga emas baru akan berbalik ke bawah,” ujar Ariston ketika dihubungi, Senin.

    Salah satu sentimen positif yang membawa emas untuk mencetak rekor baru, kata Ariston adalah kekhawatiran pasar terhadap peningkatan jumlah kasus Covid-19 di dunia, terutama di Amerika Serikat. Hal itu pula yang menekan pergerakan dolar AS yang juga menjadi keuntungan bagi harga emas di pasar spot untuk terus melaju dengan kencang di zona hijau. 

    Tidak hanya itu, hubungan AS dan Cina yang semakin panas setelah kedua negara saling membalas untuk memerintahkan menutup kantor konsulat diplomatik masing-masing negara juga menjadi katalis positif emas. Sebab, pasar mengkhawatirkan ketegangan hubungan itu akan merembet ke masalah ekonomi, sehingga perang dagang dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu terancam membuka babak baru.

    Oleh karena itu Ariston memproyeksikan harga emas akan menguji level US$ 2.000 per troy ounce, yang semakin tampak di depan mata. Hal senada disampaikan Goldman Sachs Group Inc. Lembaga itu meramalkan harga emas dapat mencapai US$ 2.000 dalam 12 bulan ke depan. Citigroup Inc. bahkan menempatkan probabilitas 30 persen untuk emas melampaui level tersebut sebelum akhir tahun ini.

     HENDARTYO HANGGI | ANTARA | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.