Ramai-ramai Terperosok Lantaran Jouska

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Te.co Blank

    Logo Te.co Blank

    Tak hanya itu, instansi yang semula mengundangnya untuk menjadi pembicara ikut-ikutan ragu. Sehingga, kata dia, kena satu kena semua.

    Safir menganalogikan kasus Jouska ini seperti seorang desainer interior yang memberi saran kepada klien di daerah Jakarta. Lalu misalnya, keluarlah biaya Rp 5 juta. Di dalam saran itu, mencakup sofa dan meja model tertentu.

    Toko dan meja tersebut ternyata dijual di sebuah toko furnitur di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Maka datanglah klien ini ke toko furnitur tersebut untuk belanja meja dan kursi. Belakangan, ternyata toko furnitur ini diketahui juga punya si desainer interior.

    Seperti inilah yang terjadi. Jouska yang menawarkan saran ke klien. Amarta Investa yang menginvestasikan dana klien. Keduanya berada di dalam satu grup yang sama. Dalam posisi ini, Jouska dinilai tidak lagi menjadi perencana keuangan yang independen, tapi perusahaan yang menawarkan jasa dengan maksud menjual produk.

    Bukan hanya Safir yang kena getah, tapi juga beberapa pelaku perencana keuangan lainnya. Beberapa anggota International Association of Register Financial Consultant (IARFC) Indonesia mendapat sejumlah pertanyaan dari para klien mereka.

    Akan tetapi, President IARFC Indonesia telah mengetahui anggotanya memegang kode etik perencana keuangan dengan taat. Sehingga, Ia meminta para anggota untuk menjelaskan secara apa adanya kepada para klien, bahwa mereka berjalan sesuai koridor yang ada. "Jadi gak usah khawatir, selama gak salah," kata Aidil kepada Tempo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.