Perlombaan Vaksin Covid-19 Dunia, Hacker Terlibat

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • logo tempo

    logo tempo

    TEMPO.COLondon – Kabar baik datang dari uji coba vaksin, yang dikembangkan University of Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca terkait pegembangan vaksin Covid-19.

    Kedua lembaga ini mengembangkan tiga vaksin Covid-19 atau virus Corona, yang semuanya menunjukkan hasil awal positif.

    Seperti dilansir CNN dengan mengutip jurnal medis The Lancet pada Senin, 20 Juli 2020, ketiga vaksin dapat memicu munculnya respon imunitas tubuh. Uji coba vaksin ini berada pada tahapan  1/2 yang membutuhkan uji coba yang melibatkan lebih banyak relawan.

    Tubuh manusia membutuhkan imunitas ini untuk melawan infeksi akibat terpapar Covid-19.

    “Namun, para peneliti menekankan studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui ketiga vaksin dapat melindungi tubuh manusia dari virus itu,” begitu dilansir CNN pada Senin, 20 Juli 2020.

    Peneliti mengatakan vaksin ini bisa memicu respon imunitas tubuh dalam 28 hari. Imunitas ini, yang diharapkan bisa menetralisir virus Covid-19, terdeteksi muncul di tubuh mayoritas relawan setelah satu kali suntikan. Dan semua tubuh partisipan mendapatkan imunitas ini setelah dua kali suntikan.

    “Vaksin ini memicu munculnya imunitas tubuh untuk menyerang virus dan sel terinfeksi virus di tubuh manusia,” kata Dr. Andrew Pollard, peneliti utama dari University of Oxford, mengenai hasil uji coba vaksin Covid-19 ini.

    Menurut dia, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui berapa lama imunitas ini bisa bertahan di tubuh manusia.

    Saat ini, uji coba vaksin itu telah melibatkan 1.077 orang dari usia 18 dan 55 tahun. Partisipan tidak memiliki rekam jejak terpapar Covid-19 atau Corona.

    Selain kedua lembaga di atas, perusahaan farmasi Cina yaitu CanSino Biologics juga melakukan uji coba fase 2 vaksin Covid-19.

    Perusahaan farmasi Pfizer dan BioNTech juga merilis hasil uji coba vaksin Covid-19, yang masih membutuhkan kajian dari peneliti lain.

    Perusahaan farmasi Moderna dari Amerika Serikat juga ikut mengembangkan vaksin ini dan telah memulai uji coba untuk mengukur efektivitasnya.

    USA Today melansir uji coba klinis tahap ketiga untuk tiap vaksin Covid-19 membutuhkan setidaknya 30 ribu partisipan.

    “Kami optimistis bisa melakukan uji coba vaksin ini,” kata Dr Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular.

    Saat ini, ada sekitar 138 ribu orang yang menyatakan diri siap menjadi partisipan dalam uji coba klinis vaksin di AS.

    Soal ini, perusahaan farmasi Moderna telah melakukan uji coba fase 1, yang melibatkan 45 orang. “Tahap awal menunjukkan vaksin itu memicu munculnya imunitas dan aman bagi tubuh,” begitu dilansir Reuters.

    India juga mengembangkan dua jenis vaksin dan mulai diuji coba pada manusia untuk tahap awal.

    Saat ini, ada sekitar 135 jenis vaksin Covid-19 dalam tahap preklinis. Ada 15 jenis vaksin dalam fase 1, 11 vaksin pada fase 2, empat vaksin pada fase 3 dan satu telah disetujui penggunaannya secara terbatas di Cina.

    Sedangkan peneliti Rusia mengatakan vaksin Covid-19 pertama akan mulai diproduksi pada Agustus ini seperti dilansir Financial Express.

    Ada dua jenis vaksin Covid-19 yang dikembangkan peneliti Rusia dan didukung Russian Direct Investment Fund, yang merupakan lembaga pendanaan di bawah naungan pemerintah Rusia.

    “Uji coba vaksin ini pada 3 Agustus akan melibatkan ribuan orang relawan di Rusia dan Uni Emirat Arab,” begitu dilansir Financial Express.

    Menurut peneliti dari Sechenov University, ui coba vaksin pada manusia berlangsung sukses. Vaksin ini dikembangkan oleh Gamalei Institute of Epidemiology and Microbiology dari kementerian Pertahanan Rusia. 

    Kantor berita Anadolu melansir ada dua pusat penelitian medis Rusia yang terlibat mengembangkan vaksin ini yaitu First Moscow State Medical University dan Main Military Clinical Burdenko Hospital. Uji coba fase 1 ini melibatkan 18 orang dan selesai pada Rabu pekan lalu.

    Di tengah persaingan ketat perusahaan farmasi dari berbagai negara ini, muncul kabar adanya aksi peretasan komputer terkait penelitian vaksin Covid-19 ini.

    Tim keamanan siber dari Inggris yaitu UK National Cyber Security Centre atau NCSC melaporkan sekelompok peretas asal Rusia mencoba mencuri informasi penting soal penelitian vaksin Covid-19 ini.

    NCSC melaporkan peretasan dilakukan oleh kelompok peretas kelas atas atau advanced persistent threat yaitu APT29. Kelompok peretas ini juga dikenal sebagai Dukes dan Cozy Bear.

    “Serangan APT29 berupa tindakan jahat yang terus menerus terutama terhadap lembaga pemerintah, diplomatik, lembaga pemikir, layanan kesehatan, dan energi untuk mencari informasi hak paten,” begitu pernyataan NCSC seperti dilansir CNN pada Jumat, 17 Juli 2020.

    Soal ini, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Rusia tidak terlibat dengan aktivitas peretasan yang menyasar lembaga terkait pengembangan vaksin virus Corona.

    “Tuduhan terhadap Rusia terkait peretasan terhadap perusahaan farmasi Barat adalah upaya untuk merusak citra dari vaksin Covid-19 buatan Rusia,” kata Kirill Dmitriev, kepala Dana Investasi Langsung Rusia atau RDIF, yang mensponsori pengembangan vaksin di Rusia.

    CNN melansir pejabat departemen Kesehatan dan Layanan Manusia, yang mengawasi lembaga Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit atau CDCP di Amerika Serikat, mengatakan ada serangan peretasan terus menerus setiap hari. Pejabat itu menuding pelakunya adalah hacker dari Rusia dan Cina.

    Temuan ini juga dibenarkan oleh tim keamanan siber Kanada atau Canadian Communication Security Establishment. Tim hacker APT29 menggunakan berbagai cara dan teknologi untuk meretas komputer milik pemerintah dan lembaga terkait. Tim ini membuat malware yang dinamai WellMess dan WellMail seperti dilansir CNN dari lembaga keamanan siber NCSC dari Inggris.

    Meski terjadi dugaan aksi peretasan oleh hacker dari Rusia, otoritas Inggris mengatakan tetap menjalin kerja sama pengembangan vaksin Covid-19.

    Kepala Gugus Tugas Vaksin Covid-19 Inggris, Kate Bingham, mengatakan kerja sama dengan semua negara termasuk Rusia dalam pengembangan vaksin Covid-19 terus berjalan. Inggris berencana mengirim sejumlah dosis vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan ke Rusia.

    “Karena ini adalah pandemi global dan ini bukan soal kami melindungi Inggris dan semua yang lain menghilang,” kata Bingham seperti dilansir Express.

    Saat ini, Reuters melansir ada 14.73 juta kasus Covid-19 di dunia. Sebanyak lebih 609 ribu orang meninggal dunia dan 8.13 juta orang berhasil sembuh. 

    “Kami berkepentingan secara fundamental untuk memastikan semua orang di dunia yang berisiko terinfeksi Covid-19 bisa mendapatkan vaksin. Jadi tidak masalah apakah Anda orang Rusia atau Timbuktu," kata dia soal dugaan peretasan oleh hacker Rusia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.