Tidak Mudik Tidak Piknik Karena Corona?

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mobil untuk mudik. dok.TEMPO

    Ilustrasi mobil untuk mudik. dok.TEMPO


    Dari sisi transportasi, Kementerian Perhubungan berencana mengambil sejumlah langkah taktis. Di antaranya melarang kendaraan dari wilayah Jabodetabek yang akan menuju wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Sementara dari sisi transportasi udara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub berencana mengurangi kuota penumpang hingga 50 persen.

    Untuk saat ini, Kemenhub telah resmi membatalkan rencana pelaksanaan mudik gratis Lebaran 2020 guna mencegah penyebaran virus corona. Pembatalan tersebut melingkupi berbagai moda, seperti kereta api, bus, penyeberangan, kapal, dan pesawat yang sudah direncanakan Kemenhub. Adapun, bagi penumpang moda kereta api yang sudah yang memesan tempat pun dikembalikan tiketnya.

    Untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Kepolisian akan tetap melaksanakan Operasi Ketupat. Sementara Tentara Nasional Indonesia akan menjaga sejumlah objek vital seperti pintu tol dalam mendukung kebijakan tidak mudik lebaran tahun 2020 ini.

    Bila nanti diputuskan tidak ada mudik maka komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat dijanjikan dilakukan secara intensif. Dalam rangka itu, Kementerian Agama akan meminta ormas Islam agar ikut serta menyampaikan anjuran tidak mudik kepada masyarakat.

    Sebab, kebijakan tidak mudik lebaran diyakini bisa membatasi penyebaran virus corona ke seluruh negeri. "Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Mudik membuka peluang penyebaran (virus corona) ke seluruh Indonesia," kata Kepala BNPB Doni Monardo.

    Rencana kebijakan Tidak Mudik Tidak Piknik pun menjadi perbincangan masyarakat. Tak terkecuali Ozi Fahmi Putra, seorang pekerja rantau asal Sumatera. Pria 27 tahun itu berpikir menangguhkan keinginannya untuk pulang kampung. Padahal, dia sudah hampir dua tahun tak mudik. Pekerja di kawasan Cikarang, Jawa Barat, itu kini bimbang menunggu kepastian bisa pulang atau tidak pada Hari raya Idul Fitri tahun ini.

    Apabila kebijakan Tidak Mudik, Tidak Piknik diterbitkan, sepucuk tiket pesawat rute Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Minangkabau tertanggal 21 Mei 2020 yang sudah dikantonginya sejak awal tahun bakal tak terpakai. Walau demikian, Ozi maklum kalau kebijakan itu akhirnya dicanangkan. Sebab, kondisi penyebaran penyakit yang menyerang pernapasan itu hingga kini memang belum kunjung mereda.

    "Memang agak menyeramkan juga pulang saat ini (karena wabah virus corona)," ujar pria asal Maninjau itu kepada Tempo, Kamis, 26 Maret 2020. Atas alasan kesehatan, ia kini terus melihat perkembangan penyebaran virus tersebut hingga masa puasa Ramadhan mendatang. "Kalau masih belum mereda, mungkin saya bakal reschedule atau refund tiketnya, mau tak mau enggak pulang lagi."

    Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menyarankan calon penumpangnya untuk segera melakukan penjadwalan ulang (reschedule) atau refund tiket perjalanan dalam waktu dekat. Imbauan itu menyusul diperpanjangnya masa darurat penyebaran virus Corona hingga 29 Mei 2020. "Kami berharap penumpang melakukan rescheduling," ujar Irfan.

    Dengan belum adanya kebijakan pasti dari pemerintah terkait kebijakan mudik Lebaran itu, masyarakat hanya bisa menunggu aturan dari pemerintah. Para perantau, khususnya Ozi, pun kini hanya bisa pasrah menanti ketentuan pasti dari pemerintah untuk memutuskan pulang atau tidak pada Lebaran kali ini. "Sekarang pasrah saja deh," ujar dia.

    CAESAR AKBAR | FRANCISCA CHRISTY | EGi ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.