Terowongan Istiqlal-Katedral: Antara Esensi atau Simbol Kerukunan

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat 7 Februari 2020. Renovasi besar-besaran Masjid Istiqlal pertama kali dilakukan sejak 41 tahun lalu. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat 7 Februari 2020. Renovasi besar-besaran Masjid Istiqlal pertama kali dilakukan sejak 41 tahun lalu. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Rencana pembangunan terowongan Istiqlal-Katedral menuai pro kontra. Ada pihak yang menyambut baik, tapi lebih banyak yang menganggap rencana pembangunan terowongan bawah tanah yang menghubungkan dua tempat ibadah itu tidak esensial.

    Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Gomar Gultom misalnya. Ia mengkritik pembangunan terowongan Istiqlal-Katedral itu sebatas simbol semata alias tak ada substansi di dalamnya.

    "Sementara kita sudah terlalu penuh dengan simbol-simbol kerukunan umat beragama yang direduksi menjadi formalistik dan sangat elitis," kata Gomar saat dihubungi Tempo, Ahad, 9 Februari 2020.

    Rencana pembuatan terowongan Istiqlal-Katedral pertama kali diungkapkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat meninjau proyek renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Februari 2020. Jokowi menyebut 'terowongan silahturahmi' itu menjadi bagian proyek renovasi Masjid Istiqlal yang mulai dilakukan pada Mei 2019.

    Gomar menilai simbol-simbol yang dibangun itu tak bisa mengatasi kasus-kasus intoleransi yang masih terjadi di Indonesia. Ketimbang membangun terowongan, kata dia, pemerintah lebih baik fokus pada upaya mengatasi masalah perizinan pembangunan rumah ibadah.

    Saat ini, menurut Gomar, masih banyaknya rumah ibadah tidak bisa berdiri karena aksi-aksi intoleran. "Kita membutuhkan kerukunan yang eksistensial bukan yang formalistik dan simbol-simbol semata," kata dia.

    Hal serupa disampaikan Direktur Riset Setara Institute Halili. Ia menyebut ada hal yang lebih penting dari simbol perjumpaan antar agama, yakni penyelesaian kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan.

    “Kalau terowongan dipromosikan tetapi pemberian izin mendirikan rumah ibadah kelompok minoritas dipersulit itu kan problematik juga,” kata Halili kepada Tempo, Jumat lalu.

    Halili menyebut ada tiga persoalan yang semestinya bisa ditangani di level negara, yaitu regulasi, kapasitas aparat, dan penegakkan hukum. “Ketiganya melampaui urgensi pembangunan terowongan" kata dia.

    Di posisi berbeda, Wakil Ketua Komisi Agama Dewan Perwakilan Rakyat Ace Hasan Syadzily menilai ikon yang mencerminkan toleransi beragama di Indonesia, teramat diperlukan.

    Keberadaan terowongan tersebut, kata Ace, akan memperkuat silaturahmi antarumat beragama. "Masjid Istiqlal dan Katedral berdampingan letaknya dan dikenal selama ini sebagai simbol rumah ibadah yang mencerminkan kerukunan umat beragama di Indonesia," ujarnya, Jumat pekan lalu.

    Di tengah ramainya pro kontra, Kepala Bagian Humas dan Protokol Masjid Istiqlal Abu Hurairah menjelaskan ide yang mendasari rencana pembangunan terowongan itu adalah rasa toleransi yang sangat tinggi di antara dua tempat ibadah tersebut. Dua tempat ibadah yang letaknya berseberangan ini kerap berbagi lahan parkir di setiap hari-hari raya.

    Sebelum muncul ide membangun terowongan, kata Abu, Imam Besar Masjid Istiqlal pernah menyarankan agar pagar di Istiqlal dan Katedral dibuka saja supaya tidak ada sekat yang membatasi. "Tapi itu kan sulit dilakukan. Nah, paling bisa dikerjakan adalah membuat terowongan yang menghubungkan dua tempat ibadah itu,” ujarnya.

    Dengan adanya terowongan tersebut, kata Abu, nantinya akan berfungsi untuk memudahkan masyarakat menyeberang dari Istiqlal ke Katedral atau sebaliknya. Selain pengunjung kedua rumah ibadah, masyarakat umum dapat memanfaatkan terowongan itu. “Khususnya bagi yang parkir di Istiqlal tapi mau ibadah di Katedral. Juga wisatawan yang ingin mengunjungi dua tempat ibadah itu,” ujarnya.

    Pengurus Gereja Katedral Jakarta juga menyampaikan hal serupa. Kepala Pastor Gereja Katedral Jakarta, Romo Albertus Hani Rudi Hartoko mengatakan rencana pembangunan terowongan Istiqlal-Katedral ini telah disepakati kedua pengurus rumah ibadah.

    Pembangunan terowongan itu, kata Albertus, akan semakin menegaskan relasi yang selama ini telah terjalin antara Istiqlal dengan Katedral. "Terlebih dalam hal saling mendukung dalam hal perparkiran, yang selama ini Istiqlal selalu menyediakan parkir bagi umat Katedral yang akan beribadah terutama di hari-hari Raya besar, pun sebaliknya," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu, 8 Februari 2020.

    Terlebih, menurut Albertus, belakangan kunjungan kenegaraan maupun kunjungan umum ke kedua tempat ibadah yang menjadi cagar budaya nasional itu semakin meningkat, baik kunjungan dari Masjid Istiqlal lalu ke Katedral, maupun sebaliknya.

    "Semoga adanya Terowongan Silaturahmi ini semakin mempererat dan merawat persaudaraan, persatuan, dan kebhinekaan serta silaturahmi dan toleransi antarumat beragama yang mendukung semangat kebangsaan," kata Albertus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.