Merespons Banjir Jakarta Dengan Pengeras Suara

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mobil terendam banjir di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Rabu 1 Januari 2020. Hujan deras yang mengguyur DKI Jakarta membuat sejumlah wilayah di Ibu Kota terendam banjir.  ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Sejumlah mobil terendam banjir di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Rabu 1 Januari 2020. Hujan deras yang mengguyur DKI Jakarta membuat sejumlah wilayah di Ibu Kota terendam banjir. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Mendengar rencana Pemprov itu, kritik pun datang dari anggota dewan Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), William Aditya. Ia menyebut penggunaan pengeras suara pada sistem peringatan dini banjir merupakan langkah mundur. “Saya melihat sistem ini mirip seperti yang digunakan pada era Perang Dunia II. Seharusnya Jakarta bisa memiliki sistem peringatan yang lebih modern,” ujar William.

    Gubernur Anies nampak setengah hati saat menyampaikan ide menggunakan pengeras suara di sistem peringatan dini. Sebab, nyatanya dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah DKI Jakarta 2020, Pemprov sudah mencantumkan pengadaan enam unit Disaster Warning System (DWS) senilai Rp 4,03 miliar di e-budgeting.

    Rupanya, DWS bukan sembarang pengeras suara atau toa. Dari situs apbd.dki.go.id DWS merupakan rangkaian perangkat teknologi yang nama-namanya asing bagi telinga awam.

    Enam unit DWS terdiri dari Stasiun Ekspansi Peringatan Dini Bencana Transmisi Vhf Radio yang dihargai Rp 3,1 miliar, enam set pole DWS senilai Rp 353 juta, enam set modifikasi software telementary dan Warning Console dengan Amplifier 100W seharga Rp 416 juta.

    Lalu ada enam set Coaxial arrester DWS senilai Rp 14.124.172, enam set Horn speaker 30 W yang dibanderol Rp 7.062.086, enam set Storage battery 20 Ah, 24V senilai Rp 70.618.918, dan enam set elemen antena seharga Rp 90.392.564.

    Penampakan Disaster Warning Sistem (DWS) alat peringatan dini banjir BPBD DKI. Foto: Istemewa

    Kepala Pusat Data dan Komunikasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI, Muhamad Insyaf, menjelaskan cara kerja alat peringatan dini bencana yang rupanya sudah dimiliki Pemprov sejak tahun lalu. Menurut dia, DWS merupakan pengeras suara atau toa jarak jauh. Setiap alat terdiri dari empat pengeras suara yang dipasang di satu tiang mengarah ke empat arah mata angin. Suaranya bisa terdengar hingga radius 300 meter.

    Insyaf menyebut DWS terkoneksi dengan sistem peringatan dini. Saat tinggi muka air mencapai siaga III di pintu air kawasan Jakarta, DWS secara otomatis akan mengeluarkan suara atau sirine sebagai peringatan kepada warga. "Berbunyi saat pintu air siaga III, bersamaan dengan peringatan dini yang dikirimkan SMS blast dan WhatsApp grup kelurahan-kelurahan," ujarnya.

    Rencananya enam unit DWS akan dipasang di kelurahan rawan banjir di Bukit Duri, Kebon Baru, Kendang Kali Angke, Cengkareng Barat, Rawa Terate dan Marunda. Sementara 14 DWS yang sudah dimiliki Pemprov sebelumnya sudah tersebar di 14 titik, salah satunya ialah Pengadegan, Cilandak Timur, Pejaten Timur, Rawa Buaya, Kapuk, dan Kembangan Utara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.