Setumpuk PR Menanti di Balik Tol Layang Jakarta - Cikampek

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto Udara Tol Layang (Elevated) Jakarta-Cikampek (Japek) II di Tambun, Kabupaten Bekasi, Ahad, 15 Desember 2019. Tol Layang Japek II mulai beroperasi untuk kendaraan golongan I tanpa tarif dengan minimum kecepatan 60 km dan maksimum 80 km per jam. ANTARA/Fakhri Hermansyah

    Foto Udara Tol Layang (Elevated) Jakarta-Cikampek (Japek) II di Tambun, Kabupaten Bekasi, Ahad, 15 Desember 2019. Tol Layang Japek II mulai beroperasi untuk kendaraan golongan I tanpa tarif dengan minimum kecepatan 60 km dan maksimum 80 km per jam. ANTARA/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Bekasi - Sammy Akbar punya cerita tersendiri usai menjajal mengendarai mobilnya di Tol Layang Jakarta – Cikampek Senin lalu. Tak seperti biasanya, ia mengaku harus menahan laju kendaraannya maksimum di kisaran 80 kilometer per jam, seperti yang dianjurkan banyak pihak sebelumnya.

    “Kalau sampai 100 kilometer per jam khawatir gak stabil dan berpotensi kecelakaan dan jatuh dari jalan layang," kata Sammy kepada Tempo, Rabu, 18 Desember 2019. Ia pun merasa angin kencang di atas jalan layang turut mempengaruhi laju mobil karena sepenglihatannya tak ada pemecah angin di pinggir jalan.

    Pria berusia 35 tahun ini juga berpesan agak pengemudi memperlambat laju kendaraan hingga 60 kilometer per jam ketika jalan menurun. “Kemudian di tikungan harus hati-hati dan fokus menjaga mobil supaya stabil," ujarnya. Adapun mobil yang dikendarai adalah Mitsubishi Pajero.  

    Dalam catatan perjalanannya dari Subang ketika itu, Sammy mencatat waktu tempuh mulai dari pintu tol Karawang dan keluar di pintu tol JORR Bintara mencapai 40 menit. Dari hitungannya, ia bisa menghemat banyak waktu karena jika tak lewat tol tersebut butuh waktu 2 jam lebih, karena harus bersaing di tengah kemacetan dengan banyak kendaraan truk bertonase besar.

    Namun warga Bekasi Barat yang berprofesi sebagai pengusaha penyedia barang pabrik ini mengeluhkan soal rambu lalu lintas di jalan tol yang masih minim. Sebab, konstruksi jalan tol sepanjang 36 kilometer yang naik turun itu dinilai butuh rambu lalu lintas yang lebih memadai, khususnya untuk memberi peringatan bagi pengendara ihwal turunan dan tanjakan tersebut.

    Ia juga mengkritik belum adanya rest area maupun parking bay tempat pengguna jalan istirahat. Sebab, jalan tol cukup panjang membentang dari Cikunir sampai ke Karawang. "Wajib dibuat itu, khawatir yang bensinnya habis. Ada juga yang mengantuk," kata ayah dua anak ini.

    Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, Djoko Setidjowarno juga mewanti-wanti soal aspek keselamatan menjadi hal yang sangat penting Tol Layang Jakarta -Cikampek dikomersialkan. Oleh karena itu operasional fungsional di saat Natal dan Tahun Baru menjadi bahan masukan penting.

    "Jika publik sudah harus membayar, maka aspek keamanan dan kenyamanan wajib disediakan sesuai standar pelayanan minimal layanan jalan tol," kata Djoko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.