Bea Masuk Perlindungan, Pil Mujarab Penyembuh Industri Tekstil?

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil terus mengarahkan laser pointer ke arah layar. Di sana, peta Jawa Barat terpampang dengan sejumlah simbol infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Patimban dan Bandara Internasional Kertajati. Pria yang akrab disapa Emil itu mencoba meyakinkan para pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) untuk tetap bertahan di Jawa Barat. 

    "Mari bertahan di Jawa Barat. Kalau keluar, anda akan kehilangan manfaat dari produktivitas warga Jawa Barat,” Emil merayu pengusaha tekstil di acara Indonesia Business Forum di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis, 31 Oktober 2019. 

    Selain terus mendongkrak kualitas sumber daya manusianya, bekas Wali Kota Bandung itu berjanji Jawa Barat bakal terus mempermak diri dengan membangun berbagai infrastruktur.  Ia menyebut Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, hingga Kereta Cepat Jakarta - Bandung sebagai gula-gula investasi.

    "Dalam tiga tahun ke depan kami akan menyelesaikan Pelabuhan Patimban, pelabuhan berkelas dunia yang akan mendukung ekspor garmen dari industri di Jawa Barat," ujar Emil. Belakangan, dia memang sibuk meyakinkan pengusaha tekstil agar tidak angkat kaki dari provinsinya.

    Untuk meyakinkan mereka, arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung itu bahkan telah berencana memberlakukan sistem zonasi industri di Jawa Barat. Nantinya, akan ada zona padat karya dengan upah minimum pekerja yang rendah, misalnya di Majalengka, Cirebon, dan sekitarnya, serta zona padat modal seperti di Karawang dan Bekasi.

    "Jadi nantinya mereka yang mau keluar dari Jawa Barat atau ke luar negeri itu kami beri pilihan dulu. Tapi kalau sudah kekeuhya saya tidak bisa memaksa," ujar Emil. Ia menengarai, banyak industri merelokasi pabriknya dari Jawa Barat karena persoalan upah yang dianggap terlampau tinggi. 

    Melansir Antara, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat mencatat, terhitung dari Januari 2018 hingga September 2019, ada 188 industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di wilayahnya yang bangkrut. Mereka kemudian merelokasi usahanya, mayoritas ke Jawa Tengah. Mayoritas industri tekstil itu terpuruk karena dibukanya keran impor tekstil dari Cina.

    "Akibat gulung tikarnya 188 pabrik garmen tersebut, 68 ribu lebih pegawai terkena PHK," kata Tim Akselerasi Jabar Juara untuk Bidang Ketenakerjaan Disnakertrans Provinsi Jawa Barat Hemasari Dharmabuni, di Bandung, Jumat 4 Oktober 2019. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.