Simpang Siur Mahasiswa Hilang Usai Demo, LSM Sulit Tembus Polda

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana ricuh aksi unjuk rasa di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 24 September 2019. Aksi demonstrasi mahasiswa menolak RUU bermasalah mulai ricuh sekitar pulul 16.15 WIB. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Suasana ricuh aksi unjuk rasa di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 24 September 2019. Aksi demonstrasi mahasiswa menolak RUU bermasalah mulai ricuh sekitar pulul 16.15 WIB. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Nasib puluhan mahasiswa hilang usai demo di depan gedung DPR pada 24 September 2019 hingga kini masih simpang siur. Diduga mereka ditangkap dan dan ditahan polisi.  

    Namun Direktur Program Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Erasmus Napitupulu mengalami kesulitan dalam memberikan pendampingan kepada para mahasiswa yang ditangkap oleh polisi. Diduga puluhan mahasiswa tersebut sampai saat ini masih ditahan di Polda Metro Jaya. 

    "Pendampingan itu susah sekali aksesnya. Tidak hanya pendampingan, tapi bantuan hukum, ya. Karena ada beberapa mahasiswa yang diancam dengan pidana di atas lima tahun, seharusnya bantuan hukumnya diberikan oleh kepolisian," ujar Erasmus saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, 27 September 2019. 

    Akibatnya, ICJR sulit melakukan pendataan mahasiswa yang ditahan oleh polisi. Menurut dia, saat ini ada puluhan mahasiswa yang ditahan di Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Barat, tapi dia tidak tahu pasti jumlah dan identitas mereka masing-masing.

    "Jadi kondisinya sekarang memang betul-betul buta," ujar Erasmus. 

    Seorang mahasiswa dievakuasi akibat gas air mata yang ditembakkan ke kerumunan mahasiswa saat ribuan mahasiswa dari berbagai kampus menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR, Jakarta, Selasa, 24 Septembr 2019. Dalam demo itu, para mahasiswa menilai DPR telah mencederai amanat reformasi. TEMPO/Subekti.

    Keluarga mahasiswa Ade Kurniawan Lubis, alumnus Universitas Mercu Buana, yang hilang sejak Selasa malam, juga mengeluh tak bisa mencari keberadaan adiknya itu. Pria 37 tahun yang menolak disebut identitasnya itu merasa dipersulit ketika mencari kerabatnya.

    "Kami seperti dipingpong. (Selasa malam) sudah datang, (besoknya) pagi keluarga datang lagi, tapi tetap dipingpong," katanya kepada Tempo, Jumat, 27 September 2019.

    Dia mengaku dioper dari satu unit ke unit lain di Polda Metro Jaya. Mulai dari Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras), Reserse Kriminal Khusus (Krimsus), hingga Pencurian Motor (Ranmor). "Ternyata kondisi yang dipingpong bukan kami aja, banyak keluarga lain yang juga dioper-oper. Banyak ibu-ibu menangis mencari anaknya yang keberadaannya tak jelas," ujarnya. 

    Hingga Kamis kemarin, masih ada 38 mahasiswa yang ditahan di Polda Metro Jaya. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta juga  berusaha mendata ulang mahasiswa yang sebelumnya dilaporkan hilang setelah unjuk rasa di sekitar gedung Dewan Perwakilan Rakyat pada Selasa lalu.

    Pengacara publik LBH Jakarta, Nelson Nikodemus, mengatakan telah mendapat informasi bahwa sebagian mahasiswa yang sebelumnya digelandang ke Polda Metro Jaya sudah diizinkan pulang. Namun tim LBH Jakarta kesulitan untuk bertemu dengan mahasiswa yang masih ditahan polisi.

    “Masa penahanan 1x24 jam sudah habis,” kata Nelson, kemarin. Ia berharap polisi mengizinkan keluarga dan tim kuasa hukum dari LBH Jakarta untuk bertemu dan mendampingi mereka dalam pemeriksaan.

    LBH Jakarta menerima 50 aduan tentang mahasiswa yang hilang usai demo. Mahasiswa itu antara lain berasal dari Universitas Singa Perbangsa Karawang, Universitas Jenderal Ahmad Yani Bandung, Universitas Padjadjaran Bandung, Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Universitas Kristen Indonesia Jakarta, dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Satu dari tiga mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dilaporkan hilang kemarin sudah diketahui keberadaannya. "Satu teman kami sudah berhasil keluar (dari kantor polisi)," kata Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN, Sultan Rifandi, lewat pesan WhatsApp. 

    Dua mahasiswa UIN juga telah dipulangkan setelah dua hari ditangkap oleh kepolisian. "Dua mahasiswa kami sudah dibolehkan pulang tadi malam, saya yang jemput ke Polda Metro Jaya," kata Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masri Mansoer saat dihubungi, Jumat 27 September 2019.

    Menurut Masri, dua mahasiswa yang sudah diperbolehkan pulang yakni Firman Irsan Mawardi jurusan Fisip (ilmu politik) dan Dodi Kurniawan jurusan Fisip (sosiologi). "Saat ini ada dua mahasiswa yang masih dimintai keterangan oleh kepolisian, yakni Iqbal Fadli fakultas Tarbiyah dan Nabil dari fakultas dakwah," ujarnya.

    Masri juga mengatakan bahwa Nabil ditangkap karena menemukan HT milik polisi setelah demo pada 24 September lalu. "Kita juga beri bantuan hukum kepada mahasiswa kita, mudah- mudahan nanti sore sudah bisa pulang," ungkapnya.

    Mantan wartawan TEMPO Ananda Badudu yang sempat dicokok polisi karena menggalang dana untuk demonstrasi mahasiswa di DPR juga sempat melihat ada beberapa mahasiswa yang masih ditahan di Polda Metro Jaya tanpa pendampingan hukum. Ananda melihat mereka saat menjalani pemeriksaan di Resmob Polda Metro Jaya, Jumat pagi. 

    "Mereka diproses dengan cara-cara tidak etis. Mereka butuh pertolongan lebih dari saya," kata Ananda. 

    Mantan personel grup musik Banda Neira, Ananda Badudu, didampingi pengacaranya Usman Hamid usai menjalani pemeriksaan lebih dari 5 jam di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat, 27 September 2019. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Namun Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono membantah pernyataan Ananda. Menurut Argo, saat ini semua mahasiswa sudah dipulangkan dan dalam proses pemeriksaan diberikan pendampingan hukum.

    "Pada prinsipnya, pemeriksaan itu kami menyiapkan penasehat dan kita menawarkan juga kepada yang bersangkutan bantuan hukum," ujar Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, 27 September 2019. 

    Soal mahasiswa yang masih ditahan, Argo menjelaskan pihaknya sudah memulangkan mereka semua. Ia mengatakan saat ini di Resmob hanya tersisa dua orang mahasiswa saja yang diperiksa dan mendapat pendampingan hukum. 

    Argo Yuwono menjelaskan semua mahasiswa yang sempat ditangkap usai demo mahasiswa di depan DPR sudah dipulangkan pada Kamis malam setelah diberi binaan.  "Udah pulang semalam, sudah pulang," kata Argo. 

    MUHAMMAD KURNIANTO | JULNIS FIRMANSYAH | BUDIARTI UTAMI  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.