Pasar Ekonomi Digital di Asia Tenggara Jadi Incaran Investor

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi QR Code. Youtube.com

    Ilustrasi QR Code. Youtube.com

    TEMPO.CO, Bangkok - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyebutkan pasar ekonomi digital di Asia Tenggara telah menjadi magnet bagi para pebisnis maupun investor. Saking besarnya magnet ekonomi itu, menurut dia, tak jarang menimbulkan kecenderungan masing-masing negara untuk memproteksi pasarnya.

    Baca: Nilai Ekonomi Digital Bakal Tembus USD 130 Miliar di 2020

    “Wajar saja, tapi menurut saya lebih baik terbuka saja. Yang penting diisi oleh entitas Asia Tenggara ketimbang dari luar kawasan,” ujarnya di sela-sela acara peresmian layanan berbasis online oleh Go-Jek di Bangkok, Thailand, Rabu, 27 Februari 2018.

    Melalui perusahaan bernama GET, Go-Jek menyediakan layanan angkutan (ride hailing), jasa antar barang, hingga pemesanan makanan di Negeri Gajah Putih. Thailand menjadi negara tujuan ekspansi luar negeri keempat Go-Jek sesudah Vietnam, Singapura, dan Filipina. 

    Kepala Eksekutif Grup Go-Jek, Nadiem Makarim, mengatakan pihaknya akan menggarap pasar Myanmar dan Kamboja dalam waktu dekat. “Negara-negara di Asia Tenggara harus merasakan benefit yang kami ciptakan,” kata dia kemarin.

    Peresmian aplikasi Go-Jek di Bangkok, Thailand, di antaranya dihadiri oleh Menkominfo Rudiantara dan pendiri Go-Jek Nadiem Makarim, Rabu, 27 Februari 2019. (ANDI IBNU | TEMPO)

    Setelah beroperasi di Thailand, penetrasi Go-Jek di Asia Tenggara hampir menyamai pesaing terdekatnya, Grab. Go-Jek hanya belum menembus Malaysia dan Kamboja. Di Filipina, Go-Jek baru mendapat izin mengoperasikan sistem pembayaran terlebih dulu.

    Nadiem enggan mengomentari persaingannya dengan Grab. Yang pasti, kata Nadiem, berbagai layanan yang disediakan Go-Jek memberikan nilai tambah tinggi. Di Indonesia, dia memberi contoh, 21 jenis layanan mulai dari transportasi, logistik, makanan, hingga perawatan tubuh tak hanya memudahkan konsumen, tapi juga menyediakan lebih dari 4 juta pekerjaan.

    “Konsumen kalau bisa diberikan pilihan akan senang sekali,” ujar Nadiem. Adapun dalam berekspansi Go-Jek memilih menggandeng entitas lokal dan mempekerjakan warga setempat agar penetrasi pasarnya bisa lebih dalam.

    Co-Founder dan Chief Executive Officer GET, Pinya Nittayakasetwat, optimistis pihaknya bisa bersaing dengan entitas besar yang sudah beroperasi lebih lama. GET bersaing dengan Grab di sektor ride hailing dan berhadapan dengan Food Panda di jasa pemesanan makanan. “Meski begitu, dalam dua bulan kami masih bisa membukukan 2 juta transaksi,” kata dia.

    Tak mau kalah, Grab juga giat meningkatkan penetrasi di Asia Tenggara. Dalam catatan akhir tahunnya, Grab mengklaim telah diunduh oleh lebih dari 125 juta gawai genggam dan memberikan akses kepada lebih dari 8 juta mitra pengemudi, merchant, dan agen. Sejak didirikan pada 2012, Grab sudah menempuh lebih dari 2,5 miliar perjalanan.

    Di Asia Tenggara, Grab beroperasi di delapan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Myanmar. “Di Indonesia kami menguasai 60 persen layanan moda roda dua dan 70 persen layanan moda roda empat,” ujar Presiden Grab Ridzki Kramadibrata, beberapa waktu lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.